fbpx
Suara Peternakan

Dangke adalah Kuliner Khas Enrekang, Begini Cara Membuatnya

SuaraPeternakan.com – Dangke merupakan olahan susu kerbau atau sapi, kuliner tradisional asal Kabupaten Enrekang yang berjarak sekitar 275 km dari Ibu Kota Sulawesi Selatan, Makassar.

Jangan salah Dangke ini sudah menjadi hak paten Enrekang. Dangke memiliki nilai gizi bagi kesehatan dengan kandungan protein tinggi.

Tak hanya menjadi favorit orang Enrekang tapi juga sampai Makassar, Kalimantan, hingga ke luar negeri seperti Jepang dan Malaysia makanan ini sudah diekspor. Berbeda dengan keju orang bule, Dangke dimakan sebagai lauk, teman makan nasi.

Dangke yang dikemas dalam kemasan lebih praktis sehingga mempermudah dalam penjualan dan masa simpan. Selain cocok dijadikan lauk seperti dangke bakar, dangke tumis dan juga diolah menjadi kerupuk.

Enrekang merupakan penghasil daging susu sapi dan kerbau, sehingga tidak sulit mencari bahan baku dangke disana. Makanan ini dikenal sejak zaman penjajahan Belanda yaitu sekitar tahun 1900-an.

Terbuat dari apa sih, Dangke dan bagaimana cara membuatnya?

Dangke memiliki tekstur lembut seperti tahu dengan rasa seperti keju. Diolah secara tradisional yaitu susu direbus hingga mendidih. Kemudian susu yang sudah mendidih diberikan campuran getah pepaya. Getah buah pepaya diteteskan satu atau dua tetes saja untuk ukuran satu liter susu.

Campuran susu dengan getah pepaya ini memisahkan serat susu yang bisa mengental. Protein susu yang sudah terpecah karena papain pada getah pepaya kemudian disaring lalu dibuang airnya, setelah itu baru dicetak. Salah dalam memasak dangke bisa berubah jadi pahit.

Untuk membuat 1 bongkah dangke membutuhkan 1-1.5 liter susu sapi atau susu kerbau. Dangke yang terbuat dari susu kerbau harganya lebih mahal. Dangke dari susu sapi memiliki kandungan lemak lebih rendah dari susu kerbau.

Sapi yang akan diperah susunya untuk dangke, harus dimandikan dulu agar bersih dari kotoran. Susu yang diperah pun disaring agar benar-benar bersih. Setelah itu, susu sapi direbus bersama garam di atas kompor hingga mendidih lalu dicampur daun pepaya muda atau air jeruk nipis.

Daun pepaya bermanfaat untuk memisahkan lemak, protein dan air susu. Juga sebagai tambahan aroma. Setelah itu, barulah dangke dimasukkan ke dalam batok kelapa yang sudah bersih. Perlahan, adonan akan memadat dan jadi dangke. Lalu, setelah dingin dan padat, dikeluarkan dari cetakan dan dibungkus daun pisang. Dangke ini sehat karena bahannya terbuat dari susu sapi dan daun pepaya. Tidak memakai bahan perasa, pewarna, atau pengawet sama sekali.

Dangke setiap kecamatan di Enrekang rasanya berbeda.
Memiliki ciri khas tersendiri. Ada dangke yang rasanya gurih, dan kenyal, tidak terlalu keras atau lembek. Ada aroma pahit sedikit dari daun pepaya yang jadi campurannya. Bagi anda penikmat Dangke, harus bisa memilih dengan baik jika membeli dangke karena ada yang rasanya asin, atau kecut khas jeruk nipis. Bahkan ada yang terasa pahit sekali karena daun pepayanya dominan.

Dangke bisa tahan sebulan jika disimpan di kulkas dan sangat cocok untuk anak-anak maupun dewasa, untuk memenuhi kecukupan gizinya.

(Visited 101 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *