fbpx
Suara Peternakan

Bali Ekspor Rumput Ilalang dan Kepompong ke Luar Negeri

SuaraPeteranakan.com – Sapi Bali menjadi andalan dan primadona bagi Peternakan di Provinsi Bali. Sebab sapi bali memiliki potensi pasar yang baik, populasi yang cukup besar. Sehingga membuat Bali menjadi salah satu daerah menyuplai sapi potong secara nasional.

Selain sapi bali potensi lainnya yaitu ternak babi, perunggasan dan ternak lainnya. Kepompong bali laris manis diluar negeri. Tidak hanya itu, rumput alang-alang yang digunakan sebagai pakan ternak juga menjadi laris juga di luar negeri.

Alang-alang atau ilalang sebagai tanaman penggangu untuk pertanian. Misalnya kebun yang tidak terurus, ilalang akan cepat tumbuh pada tempat tersebut. Bahkan ilalang akan mudah tumbuh pada tanah yang tidak bernutrisi. Akan tetapi Ilalang bisa menjadi pakan ternak ruminansia, sehingga sedikit membantu para petani.

Namun sisi lain sebagai tanaman pengganggu, ilalang ternyata dilirik di luar negeri. Negara sekelas Australia, Italia dan Maldives harus mengimpor ilalang dari Indonesia, khususnya Pulau Bali.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Ali Jamil secara resmi melepas ekspor ilalang dari Bali ke tiga negara tersebut. Nilainya tak tanggung-tanggung dengan volume sebanyak 60 M3 mencapai Rp113,9 miliar. Komoditas yang diminati negara mitra dagang di Australia, Maldives dan Italia ini juga menunjukkan tren kenaikan, tercatat 1.077 M3 dengan nilai Rp1,7 miliar di bulan Januari hingga April 2019.

Sementara tahun 2018 dibukukan total ekspor sebanyak 11.742 M3 dengan nilai Rp22,3 miliar. “Emerging product, unik dan pelaku usaha agribisnis di Bali mampu memasarkannya. Dan Kementan melalui Badan Karantina Pertanian siap memfasilitasi khususnya dari pemenuhan persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS-nya,” tutur Jamil di Denpasar.

Ekpor alang-alang dengan volume sebanyak 60 M3 senilai Rp 113,9 miliar. Komoditas yang diminati negara mitra dagang di Australia, Maldives dan Italia ini juga menunjukkan tren kenaikan, tercatat 1.077 M3 dengan nolai Rp. 1,7 miliar di bulan Januari hingga April 2019, sementara tahun 2018 dibukukan total ekspor sebanyak 11.742 M3 dengan nilai Rp. 22,3 miliar.

“Emerging product, unik dan pelaku usaha agribisnis di Bali mampu memasarkannya. Dan Kementan melalui Barantan siap memfasilitasi khususnya dari pemenuhan persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS nya,” ungkap Jamil.

Selain alang-alang, Singapura tertarik dengan kepompong kupu-kupu Indonesia khusunya di Bali.

Hewan dengan masa hidup yang tidak lebih dari 4 minggu dan sangat bermanfaat bagi ekosistem ini juga menunjukan tren peningkatan yang signifikan.

“Di tahun 2018 hanya sejumlah 40 koloni, menjadi 170 koloni selama bulan Januari hingga April 2019 dengan nilai Rp. 83,5 juta. Indonesia miliki potensi ragam yang luar biasa dan Bali memberikan kita inspirasi,” ujar Jamil.

Sementara Kepala Karantina Pertanian Denpasar, I Putu Terunanegara menambahkan data ekspor komoditas wajib periksa karantina yang dilepas ekspor lainnya yakni handicraft dengan 9 jenis kayu yang berbeda yakni jati, trembesi, sengon, rotan, eceng gondok, bambu, kelapa, mahoni dan suar berjumlah total 60 M3 senilai Rp 113,9 miliar.

“Data ekspor untuk produk yang sama di tahun 2018 sebanyak 11.742 M3 dengan nilai 22,3 miliar rupiah dan di periode Januari hingga April tahun 2019 tercatat 1.077 M3 senilai 1,7 miliar rupiah Dan untuk komoditas asal hewan yang juga diekspor selain kepompong kupu-kupu adalah sarang burung walet (SBW), kulit ular, reptil, DOC dan burung dengan total nilai ekspor mencapai 2,06 miliar rupiah,” ujarnya.

Sumber: timesbali.com

(Visited 46 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *