fbpx
Suara Peternakan

Manfaat Integrasi Tanaman Pangan – Ternak pada Lahan Kering

SuaraPeternakan.com – Keterbatasan sumberdaya alam serta kondisi iklim menyebabkan seringkali terjadi kekurangan pakan. Ketersediaan pakan alami menjadi andalan petani, belum berkembangnya ekstensifikasi sumber pakan.

Pola pemeliharaan dengan sistem semi-intensif dimana pakan diberikan berupa rumput alam, leguminosa dan sedikit yang memberikan limbah pertanian seperti jerami kacang tanah.

Perkawinan ternak dilakukan secara alami ketika ternak digembalakan atau diikat-pindah, sebagian kecil perkawinan dengan Inseminasi Buatan.

Dengan kondisi penerapan teknologi saat ini, ditemui permasalahan ketersediaan pakan, sulitnya mendapatkan bibit ternak sapi Bali yang berkualitas baik, calving interval yang panjang, serta kematian anak sapi yang tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan adanya upaya pemberdayaan petani dan meningkatkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada secara efektif dan efisien.

Sistem integrasi juga sangat cocok diterapkan oleh peternak atau petani. Sistem integrasi tanaman-ternak merupakan strategi yang cukup efektif didalam penyediaan pakan ternak sepanjang tahun, dan sistem kandang kolektif dapat diterapkan untuk mendukung penyediaan bibit sapi Bali yang berkualitas.

Sapi merupakan jenis ternak yang memiliki peran yang cukup besar sebagai tabungan hidup yang dapat memberikan sumbangan pendapatan. Namun disatu sisi kebutuhan modal cukup besar sehingga tidak semua petani mampu mengusahakannya.

Hendrawan, (2002) menyatakan bahwa sebagian besar sapi potong di Indonesia (umumnya) berada dalam penguasaan peternak kecil yang tidak memiliki lahan cukup serta modal usaha memadai, sehingga manajemen pemeliharaan lebih ditekankan kepada upaya mempertahankan ternak sebagai fungsi sosial dan tabungan tunai yang dapat dicairkan sewaktu-waktu diperlukan.

Sistem pemeliharaan yang masih semi intensif – tradisonal dalam arti sudah terjadi sedikit kemajuan pada sistem pemeliharaan dari dilepas atau digembalakan menjadi dikandangkan pada malam hari sedangkan siang hari diikat-pindah pada kebun atau lahan-lahan kosong yang tidak ditanami tanaman semusim.


Namun dari segi pemeliharaannya yang masih tradisional, pakan diberikan sepenuhnya berupa hijauan segar seperti rumput alam, walaupun sebagian kecil telah memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami kacang (pada saat musim panen).

Pola pemeliharaan ternak sapi di pedesaan yaitu ternak dipelihara dengan sistem semi-intensif dengan cara-cara yang masih tradisional. Pakan yang diberikan berupa rumput alam, leguminosa dan sedikit yang memberikan limbah pertanian seperti jerami kacang tanah.

Perkawinan ternak dilakukan secara alami ketika ternak digembalakan atau diikat-pindah, sebagian kecil sudah menggunakan teknologi inseminasi buatan (IB).

Ada pula penerapan teknologi eksisting , menyebabkan munculnya beberapa permasalahan yaitu ketersediaan pakan pada musim kemarau terbatas, sulitnya mendapatkan bibit ternak sapi Bali yang berkualitas baik, calving interval yang panjang, serta kematian anak sapi yang tinggi.

Untuk mengatasi permasalahan usaha ternak sapi sebagai bagian dari sistem usahatani di lahan kering, diperlukan adanya upaya pemberdayaan petani melalui pengembangan kelembagaan tani yang optimal guna meningkatkan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada secara efektif dan efisien.

Kelembagaan perbibitan diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi baik kualitas maupun kuantitasnya. Berdasarkan perilaku sosial budaya masyarakat setempat maka sistem kandang kolektif menjadi alternatif pilihan dalam mengatasi permasalahan kualitas ternak sapi (meningkatkan mutu genetis).

Selain itu sistem kandang kolektif merupakan modal sosial yang sangat penting di masyarakat dalam pengembangan usaha perbibitan ternak sapi Bali.

Sistem integrasi tanaman-ternak merupakan strategi yang cukup efektif didalam penyediaan pakan ternak sepanjang tahun.

Masyarakat Indonesia khususnya Kawasan Timur Indonesia sudah sejak turun temurun memelihara ternak (indigenous knowledge,), sebagai hasil sampingan dari bercocok tanam. Dengan adanya pola integrasi ternak dan tanaman tahunan baik itu kopi maupun kakao akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Lahan satu hektar akan mampu menyuplai pakan untuk 50 ekor kambing atau sekitar 20 ekor sapi. Jika potensi ini dikembangkan dengan baik dan sungguh-sungguh, maka tidak menutup kemungkinan kesejahtraan masyarakat Indonesia akan tercapai.

Salah satu upaya pengembangan lahan kering dengan teknologi yaitu Upaya peningkatan produktivitas lahan melalui konservasi air dan pemanfaatan bahan organik akan semakin berarti apabila diintegrasikan dengan usahatani ternak, karena dalam implementasinya konservasi lahan dan air akan terjamin keberlanjutannya jika diintegrasikan dengan ternak (Subagyono et al., 2004).

Menurut Tejowulan (2002) kemampuan metode integrasi adalah : (1) mengoptimalkan input lokal, (2) meningkatkan pendapatan petani (3) menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, (4) sifatnya yang tidak bertentangan dengan kondisi sosial budaya masyarakat, dan (5) memiliki peranan penting dalam upaya rehabilitasi lahan kritis.

Ternak secara tidak langsung akan mampu meningkatkan kesuburan lahan karena akan menghasilkan kotoran yang memiliki kandungan unsur yang berguna bagi tanah. Sedangkan untuk pakannya dapat diupayakan tanaman keras (tanaman tahunan) yang dikombinasikan dengan tanaman rumput-rumputan.

(Visited 63 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *