fbpx
Suara Peternakan

Budidaya Rumput Steno di Kawasan Sawit, Efektif jadi Pakan Ternak

SuaraPeternakan.com – Rumput pakan ternak itu istimewa karena tingkat kecernaanya lebih dari 60% yaitu stenotaphrum secundatum. Jika dibandingkan dengan rumput lainnya yaitu 50%.

Rumput steno sangat istimewa karena tinggkat kecernaan tinggi, kaya protein, dan toleran naungan.

Rumput Steno sering disebut dengan rumput kerbau atau rumput charleston, ada juga yang menyebutnya dengan mentereng rumput st. augustine.

Dengan tingkat kecernaan yang tinggi sehingga Kambing, domba, atau sapi menggemari pakan itu. Sebab, rumput steno memiliki cita rasanya lembut, batang agak lunak, pendek, dan tanpa berbulu. Kandungan protein kasar rumput steno lebih tinggi dari pada rumput alam lain.

Adapun kandungan nutrisi rumput steno yaitu, protein kasar rumput steno pada umur panen 45 hari 11,81%. Kandungan serat deterjen netral dan serat deterjen asam masing-masing 69,22% dan 35,15%. Kandungan nutrisi itu cukup untuk menyokong pertumbuhan ternak ruminansia.

Seiring pertambahan umur tanaman, nilai nutrisi otomatis akan menurun. Apabila ingin mempertahankan kandungan nurtrisinya maka perlu diadakan pengembalaan dan pemotongan secara teratur.

Rumput steno tahan akan naungan, jadi tidak heran ketika rumput ini dijadikan sebagai pilihan dalam pengembangan integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. Sangat cocok diintegrasikan dengan tanaman kelapa, kelapa sawit dan karet.

Sebaiknya dilakukan penanaman secara bergiliran dengan membagi lahan menjadi beberapa petak, bisa juga dilengkapi dengan pagar pembatas. Lama pengembalaan yaitu optimal hingga 7 hari dalam setiap petak. Setelah 45-60 hari baru ternak digembalakan disetiap petaknya atau pada petak pertama.

Kelebihan rumput steno mudah tumbuh meski dibawah pelepah kelapa sawit sekalipun. Memiliki warna daun yang hijau dan tidak mudah kering. Dibawah kelapa sawit, tanaman ini akan tumbuh lebat. Tidak heran ketika rumput steno menjadi pilihan bagi pekebun karet, kelapa, atau jeruk. Karena tahan terhadap naungan.

Dilansir dari situs kementrian pertanian yang diambil dari media trubus.com, peternak di berbagai provinsi seperti Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, dan Jambi membudidayakan rumput steno.

Hasil penelitian periset di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putig, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, membuktikan rumput steno mampu baradaptasi pada lahan ternaungi di dataran rendah beriklim basah. Produktivitas steno di lahan terbuka tanpa naungan justru rendah, hanya 32,4 ton per hektare setiap tahun.

Itu berbanding terbalik dengan pertumbuhan rumput steno di bawah naungan. Pada naungan 55% produktivitas tanaman mencapai 46,7 ton segar per hektare setiap tahun. Adapun pada naungan 75% produktivitas tanaman melambung hingga 53,7 tonsegar per hektare setiap tahun. Produksi rumput steno sangat rendah jika ditanam di lahan terbuka karena zat hujau daun rusak.

Klorofil mengalami reaksi fotooksidasi sehingga daun berwarna kemerahan. Akibatnya tanaman tumbuh kurang sempurna sehingga produktivitas anjlok. Rumput steno kurang menyukai sinar matahari. Lingkungan hidup dengan sinar matahari melimpah justru membuat tanaman merana. Rumput steno lebih nyaman hudp di lokasi dengan sinar matahari rendah. Buffalo grass toleran terhadap tingkat naungan hingga 75%.

Saat musim hujan, tanaman siap panen pada umur 30-40 hari. Sedangkan pada musin kemarau tanaman siap panen pada umur 60 hari. Perakaran yang kuat dan rhizoma dan stolon yang padat, Sehingga tanaman mampu berkompetisi dengan gulma dan tanaman pengembalaan berat.

Kelebihan Rumput steno yang ditanam pada lahan naungan juga mempunyai tingkat kecernaan lebih tinggi dibandingkan dengan rumput yang ditanam di lahan tanpa naungan.

Adapun kekurangan rumput steno jarang berbunga sehingga perbanyakan generative kurang menguntungkan. Perbanyakan terbaik menggunakan pols yakni bibit dari pencahan atau sobekan rumpun.

Pols diambil dari rumpun sehat dan banyak anakan. Setiap pols minimal terdiri atas 2-3 anakan. Kebutuhan bibit untuk satu hektare mencapai 40.000 pols. Pekebun membudidayakan pols berjarak 50 cm x 50 cm. Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Sumatera Utara, memasok hingga 12.000 pols ke sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, Jambi, dan Sumatera Barat.

Tanaman pakan ternak merupakan komponen penting dalam manajemen usaha ternak ruminansia, termasuk kambing, ketersediaan pakan ternak dengan jumlah cukup dengan kualitas yang baik akan mendukung keberhasilan pengembangan ternak. Integrasi tanaman pakan ternak di lahan perkebunan sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan lahan membutuhkan jenis tanaman yang toleran terhadap naungan untuk dapat tumbuh dengan baik. (Juniar Sirait, M.Si., peneliti madya di Loka Penelitian Kambing Potong).

(Visited 327 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *