fbpx
Suara Peternakan

Tradisi Berbagi Daging Sapi dan Kerbau Saat Ramadhan

SuaraPeternakan.com – Dalam menyambut Ramadhan di Indonesia terdapat banyak tradisi unik. Meskipun harus puasa selama sebulan penuh, Ramadhan adalah momen dimana begitu banyak pahala yang akan didapatkan bagi mereka yang mampu menjalaninya.

Berbagai macam tradisi yang dilakukan di Indonesia diantaranya Tradisi Dugderan masyarakat Semarang, Balimau tradisi mandi jeruk nipis Masyarakat Minagkabau, Perlon Unggahan tradisi ziarah kubur masyarakat di Desa Pekuncen, Jawa Tengah dan Megibung Budaya makan bersama ini berasal dari Karangasem, Bali.

Tradisi lainnya yaitu Meugang, tradisi berbagi daging sapi dan kerbau di Aceh. Selain itu ada juga Motong Kebo Andilan, Tradisi Masyarakat Betawi Saat Bulan Ramadhan. Penasaran dengan Tradisi Meugang dan Metong Kebo Andilan, Yuk simak ulasannya berikut ini.

Meugang, tradisi berbagi daging sapi dan kerbau di Aceh

Jelang Bulan Ramdhan, di Peunayong Banda Aceh sekitar pukul 07.00 WIB, masyarakat mulai berbondong-bondong memenuhi pasar. Mereka pada umumnya akan berbelanja daging kerbau dan daging sapi segar.

Jangan heran ketika bulan Ramadhan daging sapi dan kerbau di Aceh merangkak naik. Harga bisa mencapai Rp150 Ribu perkilo hingga Rp200 ribu per kilogram. Dibanding dengan harga normal Rp130.000 ribu.

Harga tidak mempengaruhi warga setempat untuk membeli daging tersebut. Karena daging menjadi salah satu bagian terpenting dalam tradisi warga Aceh, yaitu menyambut Ramadhan dengan uero meugang untuk menyambut Ramadhan.

Menyembelih hewan baik sapi dan kerbau atau dibeli dengan cara patungan atau meuripee. Hal ini juga dilakukan saat hari raya tiba. Inilah tradisi meugang, keluarga dekat hingga tetangga akan menyantap dengan beragam masakan yang bahan utamanya daging kerbau dan daging sapi.

Makna daging saat meugang berbeda saat kesehariannya. Meugang adalah tradisi yang dilakukan untuk menyambut datangnya Ramdhan, sehari menjelang Idul Adha dan Idul Fitri.

Uniknya, Daging hasil meuripee ini dibersihkan dan dipotong-potong berdasarkan catatan jumlah peserta patungan. Masing-masing peserta patungan akan mendapatkan satu tumpuk daging. Isinya antara lain daging has, tulang, dan daging bagian dalam.

Sejak ratusan tahun tradisi ini masih dilestarika hingga saat ini dan menjadi kebiasaan warga setempat. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya berupa ajaran islam dan adat istiadat masyarakat Aceh. Meugang yang bermakna religius, berbagi sesama, kebersamaan dan memberikan penghormatan kepada kedua orang tua.

Motong Kebo Andilan, Tradisi Masyarakat Betawi Saat Bulan Ramadhan dan Menyambu Lebaran

Kebo berarti kerbau, yang digunakan masyarakat Betawi untuk sebuah tradisi Motong Kebo Andilan. Sebuah tradisi saat Ramdhan dan menyambut Lebaran.

Masyarakat kemudian mengumpulkan uang dan kemudian membelikan kerbau. Selain itu ada juga sebelum bulan puasa akan memelihara kerbau, kemudian mengembalakan ditengah tanah lapang. Tiba saat Ramdhan dan lebaran, masyarakat akan menyembelihnya lalu memasak bersama. Kemudian hasil olahannya akan di bagikan kepada seluruh masyarakat kampung.

Bukan hanya dinikmati penduduk muslim. Namun non muslim juga akan berbaur menjadi satu dalam menikmati olehan daging kerbau tersebut.

Tradisi motong kebo andilan ini telah diwariskan oleh nenek moyangnya selama ratusan tahun. Kerbau andilan biasanya dibeli sebulan menjelang puasa dengan uang andilan (patungan) dari warga sekitar kampung.

Setelah dibeli, kerbau ini dipelihara oleh tukang piara agar sehat dan gemuk. Tukang piara dan tukang potong memperoleh bagian yang ditentukan, misalnya mendapatkan kulit dan kepala kerbau. Uang yang terkumpul dibelikan seekor kerbau yang akan disembelih sebelum Lebaran tiba. Kerbau yang sudah gemuk lalu disembelih dan dimasak untuk keperluan perayaan Lebaran, antara lain semur dan pindang kerbau. Ini yang dari tahun ke tahun sangat ditunggu-tunggu.

Bagi masyarakat Betawi, ada dua makna yang dapat disampaikan melalui tradisi motong kebo andilan. Pertama, bersyukur kepada Allah. Kedua, menumbuhkan rasa gotong royong dan rasa kebersamaan di antara manusia.

Dilihat dari pemotongan hingga menjadi menu masakan, setiap manusia memiliki peran dan saling membutuhkan. Saat ini tradisi motong kebo andilan mulai berangsur-angsur surut. Penyebabnya mulai lunturnya nilai tradisi warisan nenek moyang pada masyarakat Betawi saat ini.

(*)

(Visited 48 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *