fbpx
Suara Peternakan

Peternakan Singa di Pedesaan Yaman

SuaraPeternakan.com – Para singa yang berada di sebuah desa di kawasan Tihama yang tandus di Yaman. Tempat ini berada beberapa kilometer dari jalan raya utama dan merupakan salah satu dari dua tempat bisnis unik dan terbaru di Yaman, peternakan singa.

Tingginya permintaan hewan peliharaan eksotis dari para orang kaya Teluk membuat bisnis ini amat menguntungkan.

Hassan Bari adalah pemilik peternakan tersebut, Awalnya memiliki delapan ekor singa yang dibelinya saat hewan-hewan buas itu masih kecil.

Dikutip dari kompas.com, harga seekor anak singa mencapai 8.400 dolar per ekor atau hampir Rp 90 juta, nampaknya menjual hewan langka seperti singa menjadi daya tarik warga di wilayah termiskin Yaman ini. Para konsumen biasanya datang dari negara-negara kaya seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Hewan-hewan ini akan menjadi koleksi pribadi dan simbol status orang-orang kaya itu. Bisnis hewan langka ini telah mengubah poros jalan pesisir Yaman menjadi “jalan raya hewan liar” berkat akses lintas batas yang sangat dimudahkan pemerintah Arab Saudi.

Meurut Direktur Yayasan Born Free di Ethiopia, penjualan hewan langka ini sangat ekstensif, menguntungkan dengan risiko hukum yang kecil. Sehingga menyebabkan bisnis ini berkembang pesat. Namun, bisnis ini menghancurkan populasi alam liar dan juga berdampak terhadap masyarakat luas.

Sebuah studi PBB menyimpulkan ada kaitan kuat antara penyelundupan senjata, orang, obat-obatan dan hewan liar. Nampaknya, hewan-hewan ini adalah korban dari ketiadaan hukum.

Para pengusaha tersebut, membeli anak-anak singa dari seorang penjual yang mendarat di sebuah pantai tersembunyi di Bab-el-Mandeb, di mulut Laut Merah. Singa-singa itu berasal dari Ethiopia dan dikapalkan dari Somaliland.

Diperkirakan sebanyak 60-70 persen hewan liar yang dibawa dari Afrika menuju ke kawasan Teluk, mati dalam perjalanan. Termasuk di dalamnya 300-an anak cheetah setiap tahun. Will Travers, salah seorang pendiri Yayasan Born Free mengatakan pengiriman kucing-kucing besar itu dalam kapal dari Tanduk Afrika menuju ke Timur Tengah dan kawasan lain tak bisa diterima.

Praktik ini telah mengancam spesies yang saat ini sudah nyaris punah. Kedua, praktik ini menciptakan mimpi buruk soal kemakmuran. Ketiga, praktik ini bagai memasukkan uang ke kawasan di mana kejahatan dan masalah keamanan menjadi keprihatinan global.

Sumber: kompas.com

(Visited 53 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *