fbpx
Suara Peternakan

Deteksi Dini Kebuntingan Sapi dengan Test Kit

SuaraPeternakan.com – Selama ini metode deteksi kebuntingan pada ternak sapi dilakukan secara konvensional yaitu dengan pengecekan fisik secara langsung (perogohan/palpasi rectal). Pengecekan juga membutuhkan tenaga ahli di bidang reproduksi agar deteksi dapat dilakukan secara tepat.

Pemeriksaan kebuntingan sapi dengan teknik palpasi rektal, biasanya dilakukan pada 60 hari setelah IB, karena siklus berahi yang dipergunakan sebagai dasar diagnosa hasil IB adalah berkisar antara 28-35 hari. Jika pemeriksaan dilakukan lebih awal dikhawatirkan dapat menyebabkan keguguran.

Sedangkan pemeriksaan hormonal dengan memperhatikan tingkah lalu dan ada tidaknya gejala estrus, sering terjadi kesalahan. Karena gejala estrus dapat disebabkan oleh adanya corpus luteum persistent atau gangguan hormonal lainnya yang mengganggu siklus berahi hewan.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pada metode pemeriksaan kebuntingan sapi sebelumnya. Balitbangtan mengembangkan teknologi diagnosis kebuntingan yang cepat dan akurat dan dapat dilakukan pada umur kebuntingan kurang dari satu bulan. Kemajuan teknologi khususnya di sub sektor peternakan kini tengah berkembang pesat, khususnya untuk perkembangan populasi sapi di masa depan. Satu yang terbaru adalah test kit untuk mendeteksi kebuntingan dini pada sapi.

Kit Imunodotbloting Pregnancy (ImunoDB) ini merupakan teknologi diagnosis kebuntingan berbasis protein spesifik dengan kepekatan perubahan warna (gradient density), yang akan terjadi ikatan antara antigen dalam serum darah sapi bunting umur 1-3 bulan dengan antibody poliklonal.

Kemudahan membaca hasil deteksi kebuntingan yang terjadi. Elisa Kit sebelumnya terlihat perubahan warna darah yang diteteskan pada test kit namun pembacaan akurat masih menggunakan Elisa reader.

Kit deteksi kebuntingan ini mempunyai tingkat akurasi mencapai 90 persen. Kit ini bisa memberi informasi keberhasilan perkawinan lebih awal, pengaplikasian yang mudah dan akurat sesudah dilakukan inseminasi atau kawin secara alami., serta tidak menimbulkan trauma pada ternak.

“Dengan test kit ini diagnosis kebuntingan dapat dilakukan lebih awal yaitu mulai umur 15 hari dan hanya membutuhkan waktu 60 menit dalam pelaksanaannya. Peternak juga dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dan menekan biaya produksi,” tutur Kepala Loka Penelitian Sapi Potong, Dicky Pamungkas ketika dihubungi Tabloid Sinar Tani Online.

Deteksi kebuntingan dini pada sapi induk ini dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sehingga dapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali. “Hal ini bisa memperpendek masa kosong atau kering dan sapi induk yang telah secara dini diketahui bunting dapat segera dipelihara secara lebih baik untuk menjaga dan menyelamatkan kebuntingan sampai lahir dengan selamat” tambahnya dikutip dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan pada 21 April 2019.

Untuk test kit Imunodotbloting ini menggunakan sampel darah yang diambil pada sapi dan dimasukkan dalam mesin sentrifuge kemudian diteteskan pada dotblot yang tersedia. “Apabila terjadi perubahan warna dari merah ke jingga dan semakin pekat maka umur kebuntingan semakin tinggi,” paparnya. Perubahan warna ini terjadi karena reaksi dan ikatan dari antigen dalam serum darah dengan reagen yang ada pada test kit.

Dikutip dari indopos.co.id, Kit deteksi kebuntingan sapi dibuat oleh Tri Puji Priyatno bersama tim penelitinya. Peneliti Muda di bidang keahlian molecular plant pathology ini menggunakan antibodi untuk target protein yang terlibat dalam persinyalan interferon dalam proses fisiologis kebuntingan.

Sinyal embrionik interferon diproduksi oleh trofoblast, disalurkan melalui cairan uterus ke arah endometrium, dan masuk ke dalam darah untuk menginduksi pembentukan protein kebuntingan yang selanjutnya tersalurkan ke dalam urin sapi.

Kit deteksi kebuntingan ini, menurut Kepala Bidang Program dan Evaluasi pada Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian ini, dikembangkan menggunakan antibodi spesifik terhadap protein kebuntingan.

Antibodi diproduksi dari protein rekombinan kebuntingan yang telah diklon dan diekpsresikan dalam bakteri Eschericia coli. Kemudian protein rekombinan diproduksi dan dimurnikan secara mudah sebelum disuntikan pada kelinci untuk produksi antibodinya.

Dalam penelitiannya yang telah dilakoni sejak tahun sejak 2017 itu menggunakan uji coba kelinci. Lalu kenapa harus kelinci? Ini sebenarnya bisa dilakukan pada hewan berdarah panas lainnya. Misalkan kuda. Kelebihan dari kelinci adalah, media ini paling banyak produksi antibodinya dan kualitasnya pun tinggi.

Tri menjelaskan, pembuatan antibodi jauh lebih mudah dari proses vektor melalui bakteri, dari pada produksi melalui sapi. Karena akan lebih repot dengan membutuhkan banyak sampel yang harus diverifikasi.

Kelinci kemudian disuntik protein rekombinan, akan menghasilkan antibodi dalam darah. Selanjutnya, darah yang telah membentuk antibodi tersebut kita ambil dan dibekukan untuk diambil serumnya. Hasil antibodi dari serum tersebut akan melalui proses pemurnian. Yang selanjutnya menjadi antibodi untuk produksi Kit deteksi kebuntungan sapi. Antibodi Kit akan bereaksi positif dan melekat, ketika bertemu dengan protein dari sapi.

Protein dari sapi bisa ditemukan pada urin sapi yang sedang dideteksi kebuntingannya. Ketika bereaksi, protein antibodi dan protein pada urin akan melekat. Dan ini tidak bereaksi dengan protein lainnya. Untuk melihat secara visual reaksi kedua protein, menurut Tri maka pada Kit diberikan pereaksi atau konjugat. Pereaksi ini merupakan enzim alkaline phosphatase yang direaksikan dengan Nitro Blue Tetrazolium (NBT).

Secara visual reaksinya akan memunculkan warna ungu atau kegelapan di membran Kit. Ini dipastikan sapi yang diujicoba tengah bunting. Kit kebuntingan ini mudah digunakan oleh para inseminator atau petugas peternakan di lapang. Dalam kit, sudah tersedia test kit dan empat jenis pereaksi yang praktis untuk digunakan.

Penggunaan Kit deteksi dini kebuntingan sapi, prosesnya sama seperti penggunaan tespek untuk kehamilan manusia. Urine sapi cukup ditempatkan pada gelas atau tempat, kemudian cukup mencelupkan Kit dalam gelas. Maka dalam hitungan menit, apabila sapi bunting, akan muncul warna ungu atau kegelapan pada membran Kit.

Untuk pendeteksiannya, para petugas di lapang cukup menggunakan 0,5 ml urin sapi yang telah diiseminasi lebih dari satu minggu. Hasil deteksi dapat terlihat dalam waktu 30-45 menit setelah reaksi dengan tingkat akuasi mencapai 90 persen.

Tri yakin dengan tool kit deteksi dini kebuntingan sapi ini, bisa menjadi salah satu teknologi untuk mendukung program percepatan populasi sapi nasional, melalui optimalisasi reproduksi sapi betina produktif. Sehingga target swasembada daging sapi tahun 2026 dapat segera terealisasi.

Dengan produksi kit generasi I dalam jumlah 5 juta kit. Ini diperoleh dari antibodi yang sudah diproduksi sebanyak 150 ML pekat yang bisa diencerkan dalam 1000 kali. Dalam 1 kit hanya butuh 3 mikrolit. Mereka akan terus mengembangkan generasi kedua Kit deteksi dini kebuntingan sapi ini, dengan waktu reaksi deteksi yang lebih cepat.

Kit generasi dua bisa mendeteksi kebuntingan sapi dalam waktu 10-15 menit. Pada tahap penelitian lanjutan, ia menyebutkan menggunakan nano teknologi. Pada Kit generasi II kita tidak menggunakan alkaline phosphatase, tapi menggunakan nano gold. Pada reaksi nano gold tidak membutuhkan reaksi enzimatis dan tidak perlu menggunakan konjugat. Hanya melekat pada antibodinya.

Lebih jauh Tri menerangkan, secara reaksi Kit generasi dua hanya terdiri dari unsur protein dan antibodi yang sudah dilekatkan nano gold. Anti bodi yang melekat protein dalam jumlah banyak akan mengubah warna membran Kit menjadi pink.

Dengan adanya uji coba yang telah dilakukan oleh Tri, sehingga menurutnya masih harus dioptimasikan kembali, ini untuk memastikan reaksinya clear dan optimasi masa simpan. Masa simpan antibodi dengan nano gold pada Kit generasi kedua sangat mudah pudar. Khawatir dalam masa penyimpanan yang cukup lama akan mengurangi akurasi deteksi saat digunakan. Ketepatan akurasi Kit generasi II sudah di atas 90 persen.

Uji Coba Akurasi

Test kit imunodotbloting ini telah dilakukan ujicoba akurasi sejak 2017. Misalnya telah di Kab. Lumajang dan Kab. Lamongan dengan menggunakan 140 sampel. Didapatkan keakuratan 87,5%.

Tahun 2018, program ujicoba dilanjutkan dengan diintegrasikan pada program SIWAB yang menjadi keunggulan Kementerian Pertanian untuk memperbanyak populasi sapi. Pada tahun 2018 juga akan ada 1000 test pack yang akan digunakan untuk mengetes kebuntingan sapi yang sudah diinseminasikan.

Test kit ini lebih mahal. Untuk pengecekan kebuntingan dengan palpaci rectal, biasanya peternak hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp 35 ribu. Untuk test kit ini, peternak harus merogoh kocek sampai Rp 50 ribu per sampel. Dengan cara diintegrasikan dalam program SIWAB sehingga petani merasa terbantu.

Kendala yang dihadapi adalah diantaranya bahan kimia yang digunakan untuk reagen harus melalui proses preorder. Misalnya masih membutuhkan teknisi yang mumpuni untuk bisa mengambil sampel darah untuk diteteskan dalam test kit karena peternak belum ada kemampuan untuk itu.

Editor: Hardianti

(Visited 311 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *