fbpx
Suara Peternakan

Mengenal Lebih Jauh Penyakit Mulut dan Kuku

SuaraPeternakan.com – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau foot and mouth disease, juga disebut hoof and mouth disease (FMD) merupakan penyakit epizootika yang menyerang ternak besar, terutama sapi dan babi.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dari familia Picornaviridae yang memiliki daya tular penyakit sangat tinggi. Famili Picornaviridae yang berukuran sekitar 20-25 mikron.

PMK dapat menulari rusa, kambing, domba, serta hewan berkuku genap lainnya. Penyakit ini juga dapat menyerang gajah, mencit, tikus dan babi hutan. Adapun kasus yang menyerang manusia sangat jarang. Satu-satunya penyebab PMK yang menyerang Indonesia saat ini yaitu virus dari tipe O.

Wabah PMK pertama kali diketahui di Indonesia pada tahun 1887. Daerah terjangkit PMK yaitu Malang, Jawa Timur, kemudian penyakit PMK menyebar keberbagai daerah yaitu Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Pada tahun 1974, kampaye vaksinasi massal memberantas PMK dimulai. Sehingga pada periode 1980-1982 tidak tercatat lagi kasus PMK.

Pada tahun 1983 tiba-tiba muncul lagi kasus di Jawa Tengah dan menular kemana-mana. Melalui program vaksinasi secara teratur setiap tahun, wabah dapat dikendalikan dan kasus PMK tidak muncul lagi.

Pada tahun 1986 Indonesia menyatakan bebas PMK. Hal ini diakui di lingkungan ASEAN sejak 1987 dan diakui secara internasional oleh organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties-OIE) sejak 1990.

Tindakan yang paling menonjol dari langkah-langkah pencegahan yang diambil berbagai negara setelah merebaknya PMK di Inggris adalah mengamankan pintu masuk negara masing-masing dari penularan virus PMK dari daerah epidemik itu.

Pers dunia memberitakan larangan-larangan impor produk hewan dan lainnya yang kemungkinan mengandung virus PMK dari Inggris, Perancis dan bahkan Uni Eropa. Juga tindakan-tindakan karantina dan pengamanan lainnya di pelabuhan laut maupun udara.

Tindakan-tindakan pencegahan yang telah dilakukan di Indonesia antara lain Departemen Pertanian melalui Ditjen Bina Produksi Peternakan telah mengeluarkan keputusan melarang impor hewan, bahan asal dan hasil hewan berikut produk ikutannya dari Uni Eropa dan Amerika Selatan.

Meskipun berbagai pihak keberatan dengan kebijakan itu tetapi Departemen Pertanian bertahan tetap melaksanakannya. Bila PMK sampai merebak lagi di Indonesia maka kerugian yang akan ditanggung mencapai Rp 70 triliun dalam tahun pertama, kerugian lain adalah akan menurunnya tingkat ekspor ke Luar negeri akibat kecurigaan negara-negara tujuan ekspor terhadap kemungkinan produk ekspor Indonesia tercemar PMK.

Akibat lain adalah industri kita akan mengalami kelesuan dan menurunnya citra bangsa Indonesia di mata negara-negara lain. Persiapan menghadapi kemungkinan munculnya PMK secara tiba-tiba di dalam negeri telah dilakukan.

Namun lebih penting lagi adalah penyebaran infomasi yang seluas dan sedini mungkin dengan sasaran-sasaran yang tepat untuk membangun suatu kesiagaan darurat dalam wujud kewaspadaan umum (public awareness). Inilah salah satu yang kini diusahakan rumusannya oleh Ditjen Bina Produksi Peternakan dengan bantuan seorang pakar komunikasi dari OIE, Daniel Gregorie yang telah mengunjungi Indonesia selama dua pekan.

Hasil kerjasama dengan OIE itu dalam waktu dekat akan berhasil merumuskan strategi untuk mengembangkan dan melaksanakan program public awareness dan komunikasi yang akan mendukung tindakan pencegahan serta kesiagaan darurat nasional terhadap PMK yang direncanakan. Sesuai dengan pandangan OIE dan Deptan, kelihatannya rumusan itu akan mengikutsertakan peranan pers dan media masa.

Sangat minim dan kurangnya peranan pers dalam membangun kesiagaan darurat dalam pemberitaan yang bersifat peringatan dini (early warning) terhadap PMK sejak kasus di Argentina dan menyusul kasus di Inggris membuat negara-negara lain termasuk Indonesia menjadi waspada akan kemungkinan tertular penyakit tersebut. Pengendalian PMK di lapangan bukanlah tugas Badan Litbang Pertanian.

Namun Badan Litbang Pertanian melalui unit-unit kerja yang ada secara aktif melakukan penelitian tentang pengendalian penyakit ini. Bentuk nyata sikap proaktif dan antisipatif terhadap isu-isu kejadian dan ancaman PMK dituangkan dalam berbagai bentuk mulai dari pelayanan bantuan teknis, advokasi, monitoring, seminar-seminar, diskusi, maupun dalam bentuk saran alternatif kebijakan pemerintah yang disalurkan melalui saluran internal organisasi.

Saran dan rekomendasi sebagian juga dituangkan dalam berbagai dokumentasi ilmiah yang diterbitkan dalam majalah atau jurnal ilmiah maupun populer, sehingga dapat diakses oleh semua pihak. Lebih dari itu, pengembangan teknologi yang berkaitan dengan penyakit-penyakit tersebut dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit berbahaya tersebut.

Sumber: wikipedia/litbang.pertanian.go.id

(Visited 44 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *