fbpx
Suara Peternakan

Kalimantan Timur Budidaya Kerbau Kalang

SuaraPeternakan.com – Kerbau Kalang berbeda dengan di daerah lain, seluruh aktivitas khususnya dalam mencari makanan dilakukan di air. Jadi Kerbau Kalang yang ada di daerah Kalimantan Timur tergolong unik.

Kerbau Kalang merupakan plasma nuftah di Kalimantan Timur sejak tahun 1926. Pengembangan ternak ini dilakukan di Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di danau perian di Dusun Teluk Senala, Pulau Niung Desa Muara Aloh Kecamatan Muara Muntai.

Dikutip dari kaltimprov.go.id, Kerbau Kalang adalah kerbau rawa, yang apabila musim banjir akan dinaikkan ke kandang kayu tak beratap (dalam bahasa setempat kandang tak beratap ini disebut Kalang). Keistimewaan dari Kerbau Kalang tersebut adalah dari cara pemeliharaannya yang dilepaskan begitu saja untuk mencari makan, berkembang biak dan beraktivitas di hutan-hutan rawa disekitar danau. Daya jelajah Kerbau Kalang ini cukup tinggi yaitu diperkirakan 75 km2.

Populasi terbesar Kerbau Kalang di Kutai Kartanegara (Kukar) yaitu lebih dari 3 ribu ekor. Populasi terbesar terdapat di Kecamatan Muara Wis dan Muara Muntai yaitu, lebih dari 1.449 ekor. Di dua kecamatan ini terdapat danau dan rawa yang luas sehingga cocok untuk habitat Kerbau Kalang. Kerbau Kalang dikelola beberapa kelompok ternak di Desa Melintang, Muara Wis, Pulau Harapan dan Muara Aloh.

Peternakan Kaltim punya potensi besar. Jumlah populasi hewan ternak pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain sapi yang terus dikembangkan, provinsi ini juga memiliki hewan ternak plasma nutfah, yakni Kerbau Kalang atau Kerbau Kalimantan Timur.

Kerbau Kalang sangat potensial untuk dikembangkan di diwilayah Kaltim, terutama pada daerah dengan geografis yang didominasi rawa dan danau. Seperti dim Kabupaten Kutai Kartanegara, Kerbau Kalang sudah dibudidayakan secara turun temurun sejak 1918, khususnya di Kecamatan Muara Muntai dan Muara Wis. Populasi Kerbau Kalang di dua kecamatan tersebut sekitar 1.500 ekor.

Diperlukan kurang lebih empat jam menempuh perjalanan melalui jalur darat dan sungai dari Kota Tepian, Samarinda, untuk mencapai lokasimpeternakan Kerbai Kalang di Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis.

Kandang ini memiliki tinggi kurang lebih 2-3 meter dari permukaan tanah. Terdiri dari dua sampai tiga tingkatan, yang bisa menjaga kerbau untuk tetap kering meskipun musim banjir. Kandang kerbau kalang pernah terbakar pada 2002 dan dibangun kembali di tahun itu juga. Dengan sumber dana hasil patungan dari petenak.

Menurut Ketua Kelompok Ternak Lebak Singkil di Desa Melintang, Alkan, Pemprov Kaltim pernah memberikan bantuan dana senilai 150 juta rupiah untuk penambahan kandang. Dengan luasan 75×8 meter persegi pada tahun 2008. Selain itu juga pernah diberikan bantuan bibit.

Di 2019, populasi Kerbau Kalang di Desa Melintang sekitar 380 ekor. Mereka terus berkembang biak secara alami. Kerbau ini terbagi dalam dua kelompok besar dan hidup bebas di sekitar wilayah Danau Melintang yang habitatnya masih alami. Dipenuhi pepohonan dan rerumputan subur. Menjadi sumber makanan sehat bagi kerbau yang kuat berenang hingga tiga jam ini.

Dengan habitat tersebut, tidak heran kerbau ini memiliki bobot tubuh yang subur. Dengan rataan berat sekitar 500-570 kilogram/ekor. Untuk harga jual di kisaran Rp15-20 juta/ekor. Pembeli kebanyakan dari Banjarmasin-Kalimantan Selatan dan Samarinda. Yang memang sudah sejak lama menjadi pelanggan membeli kerbau di Desa Melintang ini.

Cukup sulit menemukan kelompok/gerombolan kerbau kalang ketika air danau surut. Bahkan hampir setahun belakangan kerbau-kerbau ini tidak pernah kembali ke kandangnya. Surutnya air danau menjadi kendala yang dihadapi peternak untuk menjual kerbau mereka. Meskipun permintaan dari pembeli terus ada melalui telepon peternak. Namun karena kondisi tersebut, maka permintaan tidak dapat dipenuhi.

Ketika musim banjir datang kerbau kalang bisa kembali digiring atau digembala ke kandangnya. Untuk pakan rumput dicarikan peternak.

Kerbau Kalang ditetapkan sebagai plasma nutfah (sumber daya genetik hewan asli Kaltim) pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2843/Kpts/LB.430/8/2012 tentang Penetapan Rumpun Kerbau Kalimantan Timur, yang ditandatangani Menteri Pertanian saat itu, Suswono.

Karakteristik Kerbau Kalang: Memiliki tubuh pendek. Tanduk horizontal, melengkung berputar sejalan dengan bertambahnya umur. Anak saat lahir hingga muda memiliki warna bulu abu-abu, secara berangsur-angsur menjadi lebih gelap/tua setelah dewasa. Anak umur 1–2 minggu ditumbuhi bulu rambut warna kuning hingga cokelat sepanjang ± 15 cm.

Karakteristik lainnya yaitu, Bobot lahir 30 –40kg. Bobot dewasa kerbau jantan 450 kg dan betina dewasa 410 kg. Temperamen relative jinak. Mempunyai birahi tenang (silent heat), dewasa kelamin 2–3 tahun. Jarak kelahiran satu dengan kelahiran berikutnya adalah 1 tahun. Kelahiran anak pertama pada umur 3–4 tahun. Umur produktif mencapai 10–12 tahun.

Kerbau Kalang memiliki ciri tanduk horizontal, melengkung berputar sejalan dengan bertambahnya umur, bobot dewasa kerbau jantan 570±5,20 kg dan betina dewasa 502±6,50kg, jarak kelahiran satu dengan kelahiran berikutnya adalah satu tahun dan umur produktif mencapai 10–12 tahun.

Daging kerbau memiliki karakteristik yang mirip dengan daging sapi. Namun, daging kerbau memiliki serat yang lebih kasar dibanding dengan daging sapi. Tekstur dagingnya pun lebih liat dari daging sapi yang lebih empuk. Dengan warna yang lebih merah pekat dan cenderung gelap, menjadi lebih mudah membedakan daging kerbau dengan daging sapi yang berwarna merah pucat.

Daging kerbau memiliki lemak yang lebih rendah dari daging sapi sehingga sangat baik untuk di konsumsi. Sumatera Utara, Sumatera Barat dan beberapa wilayah di pulau Jawa, masyarakatnya sudah sedari dulu mengkonsumsi daging kerbau yang proteinnya lebih tinggi dari daging sapi.

Untuk itu, Pemerintah melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian telah mengkampanyekan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi daging kerbau. Sebagai upaya diversifikasi pangan di masyarakat yang selama ini lebih suka mengkonsumsi daging sapi.

Pemprov Kaltim melalui Wakil Gubernur Kaltim H Hadi Mulyadi dalam Rapat Koordinasi Teknis Daerah Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Timur 2019, Februari lalu, juga mengatakan perlunya pembangunan peternakan yang berdaulat dalam penyediaan produk peternakan seperti daging, telur dan susu.

“Jajaran peternakan di Kaltim perlu memacu agar target kontribusi lokal produk pangan asal ternak yang saat ini baru mencapai 79 persen dapat terus ditingkatkan dan akhirnya kita bisa mandiri dan berdaulat,” kata Hadi Mulyadi.

sumber: Pulitbangnak.litbang.deptan.go.id / kaltimprov.go.id

(Visited 74 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *