fbpx
Suara Peternakan

Budi Daya Madu Asli Borneo Mellifera

SuaraPeternakan.com – Bagi sebagian orang, lebah itu menakutkan. Sebab, serangga ini terkenal karena sengatan yang yang menyakitkan. Tapi, tak sedikit pula yang menyanjungnya. Karena ada jenis lebah yang bisa menghasilkan madu. Ya, lebah madu yang memiliki nama ilmiah Apis.

Lebah memang sering dikenal sebagai serangga penyengat. Tak sedikit orang yang takut, walau hanya mendengar namanya saja. Tapi jangan salah. Binatang yang ditakuti banyak orang ini, ternyata menyimpan madu. Semua orang pun tahu, madu itu manis.

Namanya Malivera, asalnya dari Benua Eropa, Lebah jenis inilah yang dibudidayakan oleh Budiana (41) warga Kalampangan, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sumber pakan lebah yang paling penting diperhatikan ketika ingin membudidayakan madu. Yakni cukupnya bunga-bungaan di sekitar lokasi berternak. Pohon Caliandra Merah adalah salah satu tumbuhan yang baik untuk budidaya lebah. Pohon Caliandra berfungsi sebagai bunga dan pakan lebah, kayunya bisa dijual dan daunnya bisa digunakan untuk pakan ternak.

Adapun masalah para peternak lebah yaitu saat musim hujan, yang secara tidak langsung akan mengurangi jumlah madu. Begitu juga dengan pestisida yang disemprotkan petani ke tanamannya. Lebah madu juga memiliki pedator alami seperti Burung Raja Udang, Lebah Tabuan, dan Katak.

Madu yang di hasilkan tergantung dari pakan yang dihisap oleh lebah. Jika lebah menghisap bunga yang pahit nanti madu yang terkumpul juga akan pahit. Lebah tidak akan menyengat, asal kita tidak menyakitinya, karena mereka dibudi daya, apalagi dirawat dengan baik. Kecuali lebah hutan, memang suka menyengat.

Dikutip dari kaltengpos.co, Lebah Malivera milik Budiana (41) ini awalnya dipesan dari Pulau Jawa. Memang sengaja untuk dibudi daya di tanah Kalteng. Sebenarnya ada lebah lokal, tetapi tidak bisa memproduksi banyak madu. Perbedaannya cukup besar. Lebah lokal, sekali panen hanya menghasilkan satu kilogram madu. Sedangkan lebah Malivera, mampu menghasilkan enam kilogram.

“Kami panen bisa 20 hari sekali atau satu bulan sekali. Tentu harus didukung dengan selalu menjaga sarang agar tetap baik,” ujar Budiana.

Budiana pun menjelaskan cara kerja lebah mencari madu hingga proses pemanenanya. Menurutnya, dalam satu boks yang berukuran 40×50 dengan tinggi 50 cm itu, ada delapan sarang lebah. Isi lebah dalam boks itu bisa ratusan, tetapi ratunya hanya satu yakni induknya.

“Iya, satu kotak hanya satu induk. Ratu lebah ini hanya melakukan satu kali perkawinan dan akan mengahsilkan ratusan telur lebah,” ucapnya.

Lebah-lebah itu akan bekerja siang dan malam mengumpulkan madu di sekitar taman. Ia mengisap madu dari bunga-bunga yang jaraknya maksimal dua kilometer. Dalam sehari ia bisa terbang hingga ribuan kali, menyimpan madu dalam perut, kemudian mengeluarkannya di dalam sarang.

“Jika sudah banyak dan sarang sudah terasa berat, maka kami mengeluarkan sarang itu agar dipisahkan dari lebahnya,” ungkap pria berkumis ini.

Selanjutnya, kata dia, beberapa sarang dikumpulkan. Sarang-sarang itu dimasukkan ke dalam alat pemanen, lalu diputar hingga sarang mengeluarkan seluruh isi madunya. Madu mengalir melalui lubang di bawah alat pemanen itu. Wah, seru sekali. Bau khas madu menggoda penciuman saya.

“Boleh di rasakan mba, ini madu asli khas Borneo. Dari bunga Kaliandra,” singkatnya.

Pohon Kaliandra ini sengaja ditanamnya di taman itu. Tujuannya agar lebah-lebah itu tidak terbang jauh. Sebab, dikhawatirkan akan mengisap madu dari pohon berpestisida. Dengan banyaknya sumber makanan dan madu di sekitar taman, akan sangat memudahkan si lebah bekerja.

“Saya membudi daya lebah ini dengan tujuan agar masyarakat Kalteng bisa mengonsumsi obat herbal yang diambil dari alam sekitar Borneo ini. Saya ingin katakan bahwa tidak semua lebah itu menyengat, tetapi sebaliknya memberikan madu yang manis,” ucap pria asli Kabupaten Semarang ini.

Madu hasil budi daya itu sudah dikirim ke beberapa daerah. Tak hanya wilayah Kalteng, tapi sudah menembus hingga Kalsel dan Kaltim. Bahkan sudah dipasarkan ke Pulau Jawa, seperti Kabupaten Semarang, Jakarta, dan Surabaya. Diakuinya, omzet yang didapatkan pun lumayan. Dalam sebulan mampu mendapatkan Rp30 juta.

“Kami juga sering membuat pameran di beberapa wilayah. Tidak hanya di Kalteng saja. Baru-baru ini kami membuat pameran di Kota Makassar,” tegasnya.

Bersamaan dengan kunjungan penulis, kebetulan ada satu rombongan kelompok tani dari Kabupaten Katingan yang juga datang ke tempat itu. Tujuan mereka adalah untuk anjangsana dan merencanakan kerja sama sekaligus belajar dari Budiana. Pasalnya, kelompok tani ini tertarik dengan budi daya itu.

“Banyak yang datang ke sini. Tidak hanya mereka yang mau mencoba, tapi juga sering dibuat sebagai penelitian beberapa proyek,” pungkasnya.

Sumber: kaltengpos.co

(Visited 81 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *