fbpx
Suara Peternakan

Peternakan Itik Turi Asal Bantul Terus Berkembang

SuaraPeternakan.com – Kementerian Pertanian (kementan) menetapkan itik turi yang merupakan unggas asli Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai unggas unggulan nasional yang dapat dikembangkan di berbagai daerah.

Sesuai SK Kementan itik turi merupakan lokal asli Bantul menjadi unggul nasional. Itik ini juga merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak Indonesia asli dari Kabupaten Bantul. Itik tersebut sudah diakui melalui Surat Keputusan (SK) dari kementerian Pertanian pada 2014 lalu dengan nomor 665/Kpts/SR.120/2014.

Dikutip dari republika.co.id, Menurut Dinas setempat, Itik jenis turi ini memiliki ketahanan terhadap segala iklim sehingga memiliki prospek yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Melihat itik turi memiliki prospek ke depan sangat menjanjikan karena permintaan yang makin tinggi dari masyarakat untuk konsumsi telur dan daging bebek.

Keunggulan itik turi yaitu memiliki produksi telur yang cukup tinggi, juga termasuk hewan yang mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Seekor itik turi dalam satu tahun mampu bertelur hingga 230 butir, selain itu juga dikenal sebagai hewan tangguh karena mampu bertahan di segala cuaca dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Hewan ternak yang memiliki ciri telur berwarna biru kehijauan dan tubuh berbentuk botol serta tegap saat ini telah banyak diminati para pengusaha kuliner maupun usaha penggemukan itik.

Penetapan itik turi oleh Mentan sebagai unggulan nasional merupakan pertama dalam sektor komoditas unggas di Bantul, bahkan Daerah Ibu kota Yogyakarta.

Merupakan bentuk upaya pemerintah dalam pemurnian, pelestarian, pengembangan dan penyediaan bibit unggul serta pemanfaatannya secara berkelanjutan untuk mewujudkan target utama pemerintah yakni pencapaian swasembada pangan nasional.

Itik turi sangat menjanjikan, usaha peternakan bebek atau itik ini memang diyakini cukup menjanjikan. Untuk bebek produksi, dari 4.000 ekor bebek rata-rata mampu menghasilkan 2.800 hingga 3.600 telur setiap hari dengan harga jual Rp 1.600 per butir.

Dalam sehari peternak mampu mengantongi hasil Rp 5 juta hingga Rp 6 juta dengan omzet rata-rata Rp 130 juta hingga Rp 160 juta per bulannya. Penjualan bebek pedaging dalam satu minggu tidak kurang dari 2.200 ekor yang laku terjual, dengan harga jual Rp 28 ribu per ekornya dengan omzet rata-rata mencapai Rp 246 juta setiap bulannya.

Dikutip dari jogjapolitan.harianjogja.com, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DP2KP) Bantul menyebut peternakan itik Turi atau itik khas Bantul semakin berkembang. Meski begitu populasinya memang masih belum mencukupi kebutuhan daging dan telur itik di Bantul.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, D2KP Bantul, Joko Waluyo mengatakan itik Turi atau sering disebut itik Mataram merupakan itik unggulan asal Bantul. Awalnya itik Mataram dikembangkan di wilayah Bambanglipuro, namun kini udah menyebar ke kecamatan lainnya seperti Sanden, dan Kretek, Srandakan, Jetis, Pandak, Pajangan, sampai Sedayu.

Ia mengklaim itik Turi memang lebih unggul di banding itik lainnya, “Tidak mudah stres, biasanya itik pada umumnya kalau dibawa kemana-mana stres dan roduksi telur menurun. Itik Turi ini enggak,” kata Joko dalam diskusi dan bedah buku Beternak Itik Tanpa Bau Tanpa Angon di Balai Dusun Paduresan, Desa Imogiri, Kecamatan Imogiri, Bantul, Kamis (4/4/2019) dilansir dari jogjapolitan.harianjogja.com.

Joko mengaku instansinya terus memantau populasi itik Turi dan memberikan bimbingan dan pelatihan kepada para peternak. Ia juga menyatakan bahwa peluang beternak itik di Bantul maih cukup tinggi, karena terbukti belum mampu memenuhi permintaan daging maupun telur itik. “Masih banyak daging dan telur yang didatangkan dari luar Bantul untuk memenuhi kebutuhan kuliner, karena memang peternak kami belum mencukupi,” ujar Joko.

Nobertus Kaleka, selaku penulis buku Beternak Itik Tanpa Bau Tanpa Angon mengapresiasi Bantul yang sudah memiliki plasma nutfah atau peranakan itik unggulan sendiri. Menurut dia, itik lokal adalah kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakatnya dan juga oleh pemerintah.

“Harapan saya wakil rakyat bisa menginisiasi plasma nutfah itik ini melalui perda sebagai bentuk perlindungan agar tetap bertahan. Perda itu nantinya juga menjadi bentuk perlindungan bagi masyarakat yang akan mengembangkan agar tidak diambil alih oleh penusaha besar atau investor,” kata Nobertus.

Sumber: Republika.co.id/jogjapolitan.harianjogja.com

(Visited 130 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *