fbpx
Suara Peternakan

Pemprov Dukung Pelestarian Plasma Nutfah Sapi Bali

SuaraPeternakan.com – Sapi Bali merupakan plasma nutfah yang memiliki banyak keunggulan. Sapi ini memiliki penampilan, produksi, dan reproduksi yang sangat baik. Perkembangbiakan sapi bali sebagian besar dilakukan dengan teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku.

Semen adalah mani yang berasal dari pejantan unggul yang digunakan untuk inseminasi buatan. Kemudian semen beku tersebut disimpan dalam kontainer kriogenik yang berisi nitrogen cair pada suhu – 196 derajat celcius.

Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mendukung upaya pelestarian plasma nutfah Sapi Bali, yang diantaranya dapat dilakukan melalui proses produksi dan pendistribusian semen beku dari hewan ternak unggulan daerah setempat itu.

Dewa Indra meminta untuk dipastikan ketersedian semen beku selalu ada dan berkesinambungan, sehingga sapi bali terus menjadi sapi yang unggul dan keberadaannya tetap lestari. Sekiranya UPT BIBD terus meningkatkan kerja sama dan sinergitas dengan pihak lainnya dalam kerangka yang saling menguntungkan kedua belah pihak, dengan demikian layanan penyediaan bibit unggul kepada masyarakat akan tetap optimal.

Dilansir dari Antaranews.com, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Wayan Mardiana mengatakan UPT BIBD memiliki tugas pokok dan fungsi untuk memproduksi dan mendistribusikan semen beku. “Semen beku sapi yang mengandung bibit unggul inilah yang nantinya disebarkan ke tengah masyarakat,” ujar Mardiana.

UPT BIBD Provinsi Bali, tidak hanya melakukan inseminasi terhadap sapi bali, tetapi juga ternak babi. Di UPT ini terdapat sekitar 15 sapi jantan, 10 sapi betina, 13 babi jantan dan 12 babi betina.


Dalam peninjauan tersebut, Dewa Indra juga melakukan penerimaan bantuan penyerahan bibit ternak dari Direktur PT Charoen Pokphand I Gusti Gede Oka Aditha berupa tiga ekor babi betina dan lima ekor babi jantan.

Sperma Beku Sapi Bali Diminati Luar Daerah

Selain tingginya permintaan sapi potong, sperma (sperma beku) sapi Bali juga banyak dibutuhkan. Di antaranya di daerah- daerah sentra peternakan sapi di Indonesia. Karena itulah strow sapi Bali punya potensi ekonomi signifikan.

Banyaknya permintaan strow sapi Bali dari luar daerah, karena keaslian dan keunggulan sapi bali sebagai hewan ternak sumber sapi potong. Permintaan yang banyak utamanya pada daerah-daerah yang membudidayakan sapi Bali.

Kabid Pembibitan dan Produksi Dinas Peternakan Provinsi Bali IGK Nata Kesuma, mengatakan, ada tiga daerah yang menjadi langganan sperma beku sapi Bali tersebut. Ketiga daerah itu, Kalimantan Selatan, Lampung dan Sulawesi Utara. Dijelaskan Nata Kesuma- sapaan IGK Nata Kesuma, sebelum adanya program nasional Siwab (Sapi Indukan Wajib Bunting), daerah- daerah tersebut membeli sperma beku secara mandiri.

Namun setelah program Siwab dua tahun lalu, produk sperma sapi Bali dibeli lewat biaya dari APBN. Hal itu karena Siwab, memang dibiayai dari APBN. Selanjutnya dikirim ke daerah- daerah tujuan. “Strow ini merupakan salah satu potensi lain dari peternakan sapi Bali,” jelasnya dikutip dari nusabali.com.

Produksi sperma beku berada di UPT Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) berlokasi di Baturiti, Tabanan. Ada 14 ekor sapi pejantan yang disebut bull, yang memproduksi strow. Tentu saja, sapi pejantan ini merupakan pejantan tangguh, baik dari fisik dan kesehatannya.

Sekadar gambaran untuk setiap ekor bull, menurut Nata Kesuma harganya bisa mencapai Rp 40 juta. Sekali pengambilan (ejakulasi) per ekor bull, menghasilkan 100 strow. Pengambilan strow dilakukan 2 kali sepekan. “Lebih dari itu kualitas sperma tidak bagus karena encer,” papar pejabat asal Desa Tulikup, Gianyar.

Dalam setahun, produksi strow di Baturiti, 120 ribu. Rata-rata harga 1 strow Rp 5.000, untuk saat ini. Sedang inseminasi buatan untuk sapi telah mulai sejak 2004 lalu.

Populasi sapi Bali sekarang 526 ribu ekor. Jika diasumsikan setiap ekor sapi seharga Rp 5 juta, maka potensi ekonomi sapi Bali, menurut Nata Kesuma paling tidak Rp 2,5 triliun. “Itu baru dari potensi ternaknya. Belum termasuk imbas positif lainnya, seperti penyerapan tenaga kerja bisnis terkait lainnya,” kata Nata Kesuma. Sementara rata-rata pengiriman sapi Bali ke luar daerah dibatasi 48.000 ekor dalam setahun. Dibagi dalam 3 kali termin perngiriman dalam rentang 4 bulan.

Sumber: ANTARA/Nusabali.com

(Visited 42 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *