fbpx
Suara Peternakan

Pelihara Ribuan Ayam di Hutan, Membiarkan 2.000 Ayamnya Hidup Bebas

SUARAPETERNAKAN.COM – Apakah tidak takut dengan pencuri ayam? Kalau biasanya ayam diternak di kandang, peternak ini punya cara unik. Ia memilih membesarkan ribuan ayamnya di hutan.

Ayam kampung menyukai kebebasan. Namun, supaya efektif dalam pemeliharaan, kebanyakan memelihara dengan mengandangkannya.

Kebanyakan ayam hidup sengsara di dalam kandang yang sempit dan terkadang tanpa cahaya sedikit pun.

Para peternak konvensional umumnya mengaku terpaksa melakukan hal ini demi memenuhi permintaan daging ayam dan telur yang terus-menerus tinggi.

Peternak dari Italia Utara, Massimo Rapella memilih menernakkan ayamnya di hutan. Tak tanggung-tanggung, ia membiarkan 2.000 ayamnya hidup bebas di bagian hutan Alpine yang masih asli.

Dikutip dari detik.com (5/3), awal mula pria 48 tahun ini menjadi petani sebenarnya todak sengaja. Ia dan istrinya dulu bekerja untuk LSM pendidikan di Sandrio, Italia.

Di tahun 2008 saat pemerintah Italia alami krisis finansial, Rapella terkena dampaknya. LSM-nya tak lagi mendapat pendanaan sosial sehingga ia pilih pindah ke pegunungan terdekat.

Ketika pindah, Rapella membawa serta beberapa peliharaan ayamnya untuk memasok telur. Di saat ini pula, ia mendapati hal menarik.

Rapella melihat ayam-ayamnya suka berkeliaran ke dalam hutan penuh pohon berangan. Alih-alih mencegah ayamnya pergi jauh, Rapella justru membiarkannya.

Kini ada sekitar 2.100 ayam miliknya yang bertelur bebas di hamparan hutan Alpine seluas 2 hektar. Menurut Rapella proses menernakkan ayam di hutan menemui kendala di awal. Sebab ketika ia perhatikan ayam-ayam zaman sekarang cenderung takut hidup di alam bebas.

“Kelompok ayam berjumlah banyak yang saya bawa pertama kali terlihat sangat takut. Mereka belum pernah melihat pohon dan serangga di dalam hidupnya, dan mereka takut salju,” kata Rapella.

Namun suatu hari, salah satu ayam betina miliknya berkelana jauh ke dalam hutan. Ayam-ayam lain rupanya mengikuti hingga satu bulan kemudian, para ayam Rapella sudah membuat hutan seperti rumah mereka. Ayam-ayam itu mulai memakan daun, chestnut, cacing, dan serangga. Mereka juga menemukan sarang alami untuk bertelur.

Menurut Rapella, saat hidup di hutan ayamnya memiliki banyak efek positif. Ayam-ayam terlihat sehat, bulunya lebih bersinar, dan telur yang mereka hasilkan punya profil rasa yang lebih kaya.

Telur-telur ini juga lebih tinggi protein karena pakan ayam alami. Saat dikocok, putih telur milik ayam Rapella bahkan bisa tiga kali lebih besar dari putih telur ayam biasa.

a pun memutuskan jual telur ayamnya dengan nama “uovo di selva” atau berarti “telur dari hutan.” Telur ini ia pasarkan langsung ke konsumen, ke pasar lokal, hingga restoran. Soal pendapatan telur, tiap pagi Rapella bisa mengumpulkan 1.300 telur dari 2.100 ayam miliknya.

Satu-satunya masalah yang dihadapi Rapella ialah predator. Ayam-ayamnya tak bisa naik ke ranting pohon untuk menghindari pemangsa seperti musang, rubah, dan elang yang ada di hutan Valtellina. Ia pun memutuskan tutup petak-petak hutannya dengan pagar ganda dan membawa dua anjing gembala untuk menjaga ayam-ayamnya tetap aman.

Sumber: detik.com

(Visited 47 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *