fbpx
Suara Peternakan

Mampukah Peternak Sapi Lokal Imbangi Impor Sapi Australia

SUARAPETERNAKAN.COM – Penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IA-CEPA) antara Indonesia dan Australia dapat merugikan peternakan lokal dan mengancam swasembada sapi dalam negeri.

Usai penandatanganan perjanjian kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA), sektor industri peternakan mengaku belum mampu mengimbangi impor sapi dari Australia. Terlebih dalam kesepakatan IA-CEPA, terdapat bea tarif nol persen bagi produk impor Australia yang masuk ke Indonesia.

Meski perjanjian tersebut akan menghilangkan 100 persen tarif Australia, sedangkan 94 persen tarif Indonesia akan dihapuskan secara bertahap.

Industri peternakan Indonesia belum siap menyaingi produk impor daging sapi dari Australia. Kendati demikian, melalui tarif masuk nol persen yang ada, dia mendorong kalangan industri peternakan dapat meningkatkan kualitas ternaknya dengan menggenjot beberapa produk unggulan ternak.

“Secara rasional, saya rasa sektor industri peternakan sapi kita (Indonesia) belum mampu mengimbangi itu,” kata Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjar Sumping Tjatur Rasa dilansir dari republika.co.id

Meski Indonesia bukan negara pengimpor sapi, namun Indonesia merupakan negara pengekspor obat hewan yang secara kualitas sudah diakui dunia. Sepanjang akhir 2018, nilai ekspor obat hewan Indonesia mencapai Rp 4 trilun ke berbagai negara.

Berharap, dengan adanya perjanjian IA-CEPA, sektor peternakan akan mendapat kompensasi dari pemerintah Australia berupa teknis pengembangan teknologi produksi yang dapat menggenjot produktivitas peternakan.

Mengenai kekhawatiran peternak dalam negeri maupun pebisnis daging ia meminta supaya tidak terlampau takut pasalnya saat ini guna memenuhi kebutuhan daging Indonesia juga telah impor.

“Daging sapi dan kerbau sekarang sudah impor apabila kenaikan kemarin diangka Rp 135 ribu perkilogramnya tidak bisa turun kecuali impor. Dan kita tidak usah takut ekspor impor bukan suatu yang haram tapi keniscayaan,” ungkapnya

Dari kerjasama perdagangan dengan Australia yang baru saja dilakukan Menteri Perdagangan mentargetkan pertumbuhan ekonomi nasional diangka 6,5 persen lebih minimal dibatas itu tidak boleh turun.

Daging kerbau impor dari India lanjut dia dinilai hasilnya lebih bagus dan kandungan lemaknya rendah serta harganya murah perkilogram Rp 85 ribu. Apabila ada permintaan tinggi tidak terpenuhi dikhawatirkan menjadi masalah besar.

“Jadi ini adalah hukum ekonomi, adanya permintaan kebutuhan dan harus dipenuhi. Maka ada untung rugi, tapi saya yakin ekonomi Indonesia akan bertumbuh,” jelasnya

Enggartiasto Lukita memaparkan total perdagangan bilateral antara Indonesia dan Australia tercatat USD 8,6 miliar pada tahun 2018. Ekspor utama Indonesia ke Australia termasuk minyak bumi, furnitur, ban, panel layar, dan alas kaki. Sedangkan impor utama Indonesia dari Australia termasuk gandum, minyak bumi, ternak hidup, batubara, dan gula mentah.

“Sementara total investasi dari Australia ke Indonesia pada tahun 2018 mencapai USD 597 juta. Angka-angka ini diperkirakan akan meningkat begitu perjanjian yang kemarin ditandatangani mulai berlaku,” pungkasnya

Sumber: Republika.co.id/Tribunnews

(Visited 68 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *