fbpx
Suara Peternakan

Brucellosis dapat Menular ke Manusia, Ratusan Sapi Diperiksa di Kerinci

SUARAPETERNAKAN.COM – Penyakit Brucellosis bisa Menular dari Hewan ke Manusia, 150 Sapi di Kerinci Diperiksa.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penyakit Brucellosis pada hewan, Dinas Perkebunan dan Peternakan Kerinci melalui Bidang Peternakan terus melakukan pemeriksaan hewan ternak di Kabupaten Kerinci, Rabu (20/2) beberapa waktu lalu di Desa Lolo Hilir, Kecamatan Bukit Kerman. Pihaknya melakukan monitoring hewan ternak. Sebab Brucellosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang disebarkan dari hewan ke manusia.

Kabid Peternakan Kabupaten Kerinci, dr WIRA mengatakan, bahwa pihaknya terus melakukan monitoring panyakit ternak di Kabupaten Kerinci.

“Ya, untuk mengatisipasi ada penyakit ternak seperti Brucellosis, kita sudah cek kesehatan ternak sapi di Lolo Hilir beberapa hari lalu, ada sebanyak sekitar 150 lah kita periksa,” ujarnya, Senin (25/2/2019).

Secara singkat, penyakit brucellosis adalah penyakit bakterial yang menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Namun di Indonesia, brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular.

Brucellosis atau keguguran yang menular pada sapi.

Peternak yang memelihara sapi indukan atau sapi bunting tentunya berharap agar pedetnya bisa lahir normal, tidak mengalami keguguran ataupun lahir lemah karena penyakit. Salah satu momok penyakit pada sapi yang berhubungan erat dengan kebuntingan sapi dan penyebab utama keguguran pada sapi adalah brucellosis.

Penyakit brucellosis atau penyakit keluron menular disebabkan oleh bakteri Brucella .Bakteri Brucella mudah dibunuh dibawah sinar matahari namun apabila lingkungan jauh dari jangkauan sinar matahari maka bakteri ini dapat bertahan selama 6 bulan.

Gejala-gejala penyakit Brucellosis sebagai berikut.

Bakteri yang menjangkit ternak sapi dari Brucella abortus. Ternak sapi biasanya tidak menunjukkan suatu gejala yang menyolok. Sapi tampak biasa, nafsu makan biasa dan tidak menimbulkan perubahan klinis yang bisa diamati. Pada jantan gejala ini lebih mudah diamati.

Scrotum membengkak dan membesar (hernia), nafsu makan menurun dan demam. Kadang-kadang gejala semacam ini pun tidak selalu tampak. Gejala pada sapi betina adalah terjadi keguguran pada pertengahan kebuntingan. Anak yang gugur biasanya mati dan berwarna biru kecokelatan. Anak yang lahir tetap hidup, menjadi sangat lemah tak berkembang. Ambing dan alat kelamin kadang-kadang bengkak.

Mekanisme Penularan Penyakit

Infeksi pada manusia

Manusia dapat terinfeksi secara langsung maupun tidak langsung melalui produk hewan seperti keju dan susu mentah ataupun lewat inhalasi agen melalui udara. Pada wanita menyebabkan abortus, pada pria menyebabkan radang sendi, radang testis, dan kemandulan Kelompok yang dianggap berisiko terkena adalah pekerja di RPH, pedagang, dan dokter hewan. Infeksi biasanya terjadi saat penanganan fetus atau kontak dengan sekresi vagina, ekskreta, dan karkas yang terinfeksi lalu mikroorganisme , serta melalui kulit yang luka/abrasi.

Infeksi pada sapi

Kontak langsung, yakni pada saat terjadi perkawinan dengan pejantan yang tampaknya sehat tapi membawa penyakit’ Sumber utama infeksi pada sapi adalah cairan fetus, sisa – sisa setelah melahirkan, dan cairan vagina. Jalur masuk utama infeksi pada sapi adalah melalui oral lewat (pakan dan air yang terkontaminasi), kulit yang luka, inhalasi, dan secara kongenital (fenomena laten) seperti dari induk ke fetus atau melalui air susu induk.

Pencegahan dan Penanggulangan

Karena tidak efektifnya tindakan pengobatan, maka sangat disarankan tindakan pencegahan yang meliputi : Ternak yang didiagnosis brucellosis harus segera dipisahkan dipisahkan dan jika ada kejadian abortus, fetus, dan membran fetus harus segera dikirim ke laboratorium untuk diuji. Kemudain tempat didesinfeksi dan semua material terkontaminasi harus dibakar.

Mengkonsumsi produk asal hewan yang higienis dan terjamin mutu seperti susu yang dipasteurisasi

Menggunakan perlengkapan kerja sesuai standar keamanan dan bekerja dibawah pengawasan dokter hewan pada kelompok rawan infeksi seperti peternak sapi, pekerja RPH, dan dokter hewan itu sendiri.

Vaksinasi kepada kelompok rawan tertular seperti dokter hewan, pekerja kandang, pemerah susu, dan pekerja di RPH.

Vaksinasi pada daerah endemis serta melakukan pengujian dan pemotongan (test and slaughter) pada daerah dengan prevalensi. Vaksinasi tidak berlaku untuk sapi betina bunting. Vaksinasi pada sapi betina diatas umur 4 bulan sedangkan vaksinasi tidak dilakukan pada sapi jantan karena dapat menurunkan fertilitas

Pada daerah yang bebas brucellosis (seperti Bali dan Lombok) melakukan lalu lintas pada ternak secara ketat.

Kerugian:

Keguguran pada janin usia 6-9 bulan
Pedet Lahir Lemah
Biaya yang tinggi untuk memperbaiki kesehatan sapi.
Waktu yang lama untuk menghilangkan bakteri.
Pemusnahan/Pemotongan induk, tidak bisa dijadikan indukan lagi
Menular ke sapi lain

Sumber: sapibagus.com/tribun.com

(Visited 82 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *