fbpx
Suara Peternakan

Peternakan Unta di Australia Siap Pasarkan Susu Unta

SUARAPETERNAKAN.COM – Susu unta dipuji lebih gampang dicerna, karena kandungan laktosenya lebih rendah dari susu sapi. Rasanya disebut lebih asin dari susu sapi. Permintaan susu unta di pasar dunia juga terus naik. Saat ini produk dari Uni Emirat Arab mendominasi pasar internasional.

Peternakan unta di Dandargan di barat Australia telah mendapat izin untuk menjual produknya yaitu susu unta kemasan. Sekita 150 ekor unta yang dimilikinya, perusahaan punya ambisi besar, tembus pasar dunia untuk saingi produk serupa dari Uni Emirat Arab. Karena kandungan laktosenya lebih rendah dari susu sapi, sehingga susu unta dipuji lebih gampang dicerna.

Sudah ada 50 pedagang ritel telah meneken kontrak untuk memasarkan susu unta kemasan itu. Satu liter susu unta yang dijuluki “emas putih” dibanderol seharga 20 Australia Dollar. Peternakan di barat Australia sekitar 160 km di utara Perth ini, juga punya ambisi besar, menembus pasar internasional.

Saat ini di Australia terdapat lebih 750.000 unta yang berkeliaran di kawasan gurun. Menilai bahwa Peternakan di Dandargan itu merupakan terobosan penting buat Australia, yang selama ini memandang unta yang berkembang biak tak terkendali dan liar sebagai hama.

Kim Chance, direktur peternakan unta di Dandargan mengakui, volume produksi mereka masih relatif kecil. Di peternakannya ada sekitar 150 unta yang sudah bisa berproduksi dan hanya 50 unta yang diperah rutin harian.
“Walau begitu, sasaran jangka panjang kami, adalah memasuki pasar internasional, antara lain dengan produk susu unta dalam bentuk bubuk”, ujar Chance. Peternakan akan diperluas dengan 250 unta lainnya.

Beternak Unta

Dilansir dari DW.com, Di peternakan Susu Unta, ‘Emas Putih’ dari Dubai yang beroperasi sejak tahun 2006 ini dibudiyakan ribuan unta. Peternakan merupakanb kawasan tertutup yang dipagari. Lebih 4.200 unta berkeliaran di padang pengangonan seluas 210 lapangan sepak bola.

Unta adalah hewan yang hidup dalam “kawanan”. Biasanya terdiri maksimal 25 unta yang hidup bersama-sama dalam satu kawanan.

Ternak unta terutama diberi pakan jerami. Tapi hewan ini juga diberi makan suplemen berupa wortel organik.

Meski unta tergolong makhluk sensitif dan keras kepala. Induk baru bisa diperah susunya, hanya jika sudah menyusui anaknya sebelumnya, dan selama proses pemerahan, si kecil juga harus ada dekat induknya.

Produktifitas susu unta relatif rendah. Di peternakan, hanya bisa diperah tujuh liter susu per hari dari seekor unta. Sebagai perbandingan dengan sapi di Eropa: produktifitasnya antara 25 hingga 40 liter susu per hari per sapi.

Susu unta diperah dua kali sehari. Unta merupakan hewan yang harus bergerak.Jika tidak sedang diperah, mereka dibiarkan berkeliaran. Peternakan unta harus menyediakan lahan yang cukup luas dan memungkinkan mereka bergerak bebas.

Susu unta memiliki 50% lebih sedikit lemak dibandingkan susu sapi. Namun susu unta memiliki tiga sampai lima kali lebih banyak vitamin C dibanding susu sapi. Dari susu unta, bisa diperoleh kalsium dan vitamin B yang memadai. Susu unta mampu menyediakan sejumlah besar protein dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh.

Enam ribuan liter susu unta dipasteurisasi di peternakan ini setiap hari. Menariknya, bahan berharga ini diolah tanpa perlu menggunakan perangkat modern. Kualitas susunya bisa tahan selama 12 hari pada suhu 4 derajat C, dan pada suhu kamar selama 48 jam, atau bahkan bisa lebih. Sementara susu sapi, pada suhu kamar yang normal dalam waktu 12 jam sudah menjadi masam.

Dua pertiga dari susu unta yang diproduksi di peternakan ini dijual langsung, sisanya dijadikan susuk bubuk.

Sejak tahun 2008, cokelat susu unta pertama di dunia diproduksi dari bahan dasar susu bubuk dan produksinya kini sudah mencapai 100 ton per tahun. Karena teknologinya kurang memadai, meski susunya dari Emirat, coklatnya tidak diproduksi di Dubai, melainkan di Austria. Di Austria, ‘emas putih’ diolah jadi penganan manis.

Susu untanya dari Dubai, kakaonya dari Pantai Gading, sementara vanilinya dari Madagaskar. Semua diolah dengan teknologi Austria. Coklat dipak dan dikirim kembalik ke Dubai, lalu diekspor ke berbagai belahan dunia. Satu kemasan 70 gram cokelat dibanderol seharga 6 Euro.

Coklat halal “Al Nassma” : 51 persen sahamnya dimiliki oleh Uni Emirat Arab dan 49 persen untuk perusahaan Austria.

Sumber: DW.com

(Visited 91 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *