fbpx
Suara Peternakan

Sisa Sayuran Bisa Jadi Bahan Pakan dan Sumber Nutrisi Bagi Sapi

SUARAPETERNAKAN.COM – Selama ini, limbah sayuran belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya sebagai sumber penyakit dan sampah saja. Sayuran merupakan bahan pangan yang mudah membusuk. Sifat dari limbah sayuran ini mudah membusuk mengakibatkan pencemaran lingkungan berupa bau yang tidak sedap serta mengotori lingkungan.

Ada beberapa jenis limbah sayuran pasar yang dapat digunakan sebagai pakan ruminansia diantaranya bayam, kangkung, kubis, kecambah kacang hijau, daun kembang kol, klobot jagung, dan daun singkong.

Dampak yang kurang baik dari limbah sayuran memerlukan penanganan yang serius. Selama ini pengolahan limbah sayuran hanya menjadi pupuk kompos. Sesungguhnya limbah sayuran dapat diproses menjadi sumber energi dan pakan yang baik. Hal ini akan bernilai ekonomis dan lebih menguntungkan.

Apabila limbah sayuran diolah menjadi pakan, limbah tersebut dapat menghasilkan daging pada ternak dan pupuk organik dari kotoran ternak dibandingkan hanya diolah menjadi kompos saja. Dengan demikian nilai tambah yang diperoleh akan lebih tinggi serta dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan mengatasi kekurangan pakan.

Limbah sayuran akan bernilai guna apabila dimanfaatkan sebagai pakan melalui pengolahan. Pemanfaatan limbah sayuran sebagai bahan pakan harus bebas dari efek anti-nutrisi, terlebih toksin yang berbahaya bagi pertumbuhan ternak.

Limbah sayuran secara fisik mudah busuk karena mengandung kadar air yang tinggi, namun secara kimiawi kandungan gizi limbah sayuran cukup baik. Limbah sayuran bersifat perishable, bulky, dan voluminous serta ketersediaannya yang melimpah sehingga perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan tujuan pengawetan. Salah satu teknologi pengawetan bahan pakan adalah pengawetan berbentuk silase pakan berbahan baku limbah sayuran.

Pengolahan bahan pakan menjadi silase bertujuan untuk memperpanjang masa simpan pakan. Silase merupakan bahan pakan dari hijauan pakan maupun limbah pertanian yang diawetkan melalui proses fermentasi anaerob dengan kandungan air 60 — 70%. Kadar air bahan yang akan diolah menjadi silase tidak boleh terlalu rendah maupun terlalu tinggi.

Untuk bahan-bahan yang memiliki kadar air cukup tinggi (> 80%), perlu dilakukan pelayuan, penjemuran atau dikeringanginkan terlebih dahulu sebelum proses pembuatan silase dimulai untuk menurunkan kadar airnya (Saenab, dan Retnani., 2011). Limbah sayuran yang dibuat menjadi silase ditambahkan tepung gaplek sebagai bahan aditif pengganti sumber. karbohidrat terlarut dalam proses fermentasi menjadi silase sehingga mampu meningkatkan nilai nutrisi didalamnya.

Peneliti Risma Rizkia Nurdianti Asal Indonesia, Melakukan Studi Fraksinasi Serat pada Hijauan Pakan Ternak di Universitas Hohenheim di Stuttgart, Jerman

Peneliti nutrisi ternak asal Indonesia Risma Rizkia Nurdianti, melakukan studi fraksinasi serat pada hijauan pakan ternak di daerah beriklim sedang seperti di Eropa. Lewat studi itu, ia mencari tahu pemecahan senyawa serat pada hijauan makanan ternak di kawasan tropis seperti di Indonesia. Di Universitas Hohenheim di Stuttgart, Jerman, perempuan Indonesia ini melakukan penelitiannya.

Menurut Risma, pakan yang mengandung nutrisi seimbang amat baik untuk ternak berkontribusi pula pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Di negara-negara beriklim sedang, seperti di Eropa, sudah ada pendataan yang lengkap mengenai nutrisi hijauan makanan ternak. Sementara di negara-negara beriklim tropis seperti Indonesia, pendataan informasi terkait hijauan pakan ternak ini masih terbatas.

Risma meneliti fraksinasi serat yang terdapat pada hijauan makanan ternak dari beberapa negara tropis melalui teknologi in vitro dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap ternak ruminansia misalnya produksi susu dan kecernaan ternak melalui metode in vivo di Indonesia. Untuk itu ia harus bersiap ke kandang sapi.

Dilansir dari DW.com, untuk metode in vitro, Risma membutuhkan cairan dari lambung sapi. Di sini dilakukan simulasi pencernaan sapi melalui inkubasi pakan ternak menggunakan lambung sapi dalam jangka waktu tertentu dalam tabung reaksi. Cairan ini nanti akan dijadikan media utama untuk proses inkubasi.

“Dengan metode in vitro ini saya gunakan simulasi lambung sapi, kemudian cairan dari lambung sapi yang diambil dari kandang tadi digabungkan dengan campuran hijauan pakan ternak,” demikian Risma menjelaskan metodenya. Ia menggunakan botol khusus sebagai tempat inkubasi pakan ternak dan cairan rumen.

Inkubasi ini harus dilakukan selama 10 hari lalu dilanjutkan dengan uji lainnya. Tujuannya adalah untuk mengukur nilai nutrisi pakan ternak dengan menggunakan mokroorganisme dari cairan lambung sapi segar. Risma sang peneliti adalah anggota Komunitas Intelektual Indonesia Terpadu di Jerman, ICONIC.

Kandungan serat pada hijauan sangat dibutuhkan ternak untuk merangsang gerakan otot saluran pencernaan. Pada ternak ruminansia atau ternak memamah biak, serat kasar digunakan sebagai sumber energi. Salah satu kelemahan serat pada ternak ruminansia yakni dapat menyebabkan turunnya lemak susu. Manfaat serat lainnya adalah mendukung pertumbuhan dan fungsi mikroorganisme pencerna serat.

Bersama rekan-rekannya sehari-hari ia bekerja di laboratorium ini demi masa depan sektor peternakan di tanah air: “Kita sering lupa bahwa ternak tidak hanya butuh protein. Produk ternak yang sehat yang nantinya dikonsumsi manusia juga butuh asupan serat yang seimbang. Lewat penelitian saya ini, diharapkan para peternak bisa menyuplai ternaknya dengan nutrisi termasuk serat yang baik,” tandasnya.

Banyak sumber pakan ternak yang berasal dari limbah hasil pertanian, misalnya jerami. Jerami mengandung serat yang sangat tinggi. Tapi apakah serat itu sepenuhnya merugikan atau malah menguntungkan bagi ternak? Itulah yang Risma teliti. Hal ini berlaku juga pada limbah pertanian atau sisa makanan manusia lainnya, misal daun kacang panjang, kacang tanah, kacang hijau, dan lain-lain.

Hasil dari penelitian ini adalah pemutakhiran informasi fraksinasi serat pada hijauan makanan ternak di daerah tropis khususnya Indonesia. “Kalau kita makan kacang panjang kan daunnya dibuang, bisa jadi ini sangat dibutuhkan sapi,” ujar Risma. Penanggung jawab kandang di Universitas Hohenheim, Raoul von Schettow banyak membantu Risma dalam penelitiannya.

Ia berharap nantinya penelitian ini dapat bermanfaat bagi sektor industri peternakan Indonesia. Risma adalah kandidat doktor pertama di institutnya yang ingin menginisisasi kerja sama dengan kelompok riset di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Sebelumnya institut ini hanya berfokus pada Asia Tengah/Timur/Barat, Afrika Utara dan Amerika Selatan.

(Visited 89 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *