fbpx
Suara Peternakan

Jenis Penyakit Pada Broiler

SUARAPETERNAKAN.COM – Penyakit pada ayam broiler adalah hal yang harus diwaspadai para peternak sebab dapat mengganggu usaha peternakan yang dilakukan dan menyebabkan kerugian. Para peternak ayam harus memahami apa saja jenis- jenis Penyakit pada Ayam Broiler, agar dapat mengatasi dan memberi pengobatan sejak dini.

Penyakit Berak darah (Coccidiosis)

Foto: ternakmudahuntung.com

Penyakit yang satu ini memang kemunculannya di farm layer maupun broiler tidak sesering penyakit lain seperti ngorok (CRD) ataupun korisa.

Koksidiosis (coccidiosis) yang sering juga disebut sebagai penyakit berak darah, ialah suatu penyakit parasiter pada sistem pencernaan unggas akibat infeksi protozoa genus Eimeria dari famili Eimeriidae.

Penyakit ini menyerang usus unggas pada umumnya, kecuali pada angsa karena menyerang pada buah pinggangnya.Setiap tahun, biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi koksidiosis di seluruh dunia tidak kurang dari US$ 400 juta, yang meliputi pengobatan dan pemberian antikoksidia pada pakan sebagai feed additive.

Koksidiosis memiliki host specificity yang tinggi sehingga jarang terjadi penularan penyakit dari induk semang yang satu ke induk semang lain yang berbeda bangsa hewan. Gejalanya yaitu tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.

Koksidiosis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan di saluran percernaan, terutama di usus halus dan sekum. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal, sehingga berujung menimbulkan kerugian berupa pertumbuhan berat badan rendah, penurunan produksi telur, serta kematian (mortalitas) yang tinggi hingga mencapai 80-90%. Selain itu, koksidiosis juga dapat menimbulkan efek imunosupresif yang menjadikan ayam rentan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Penyakit Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)

Foto: ilmuwanhewan.com

Tetelo merupakan penyakit pada broiler yang fatal (mematikan). Di Indonesia penyakit ini juga populer sebagai tetelo, diambil dari nama dalam bahasa Jawa, thèthèlo. Gejala: ayam sulit bernapas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala tortikolis yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.

Penyebabnya tetelo adalah serangan virus NDV, suatu virus RNA berkas tunggal dengan sekuens antisens negatif. Pertama kali virus ini diisolasi dari Newcastle upon Tyne, Inggris, tahun 1926 oleh Doyle. Pada tahun yang sama, Kraneveld berhasil mengisolasi virus pada unggas dari Bogor.

Tetelo juga menyerang itik manila. Manusia dapat tertular NDV tetapi tidak memberikan gejala yang signifikan, biasa berupa konjungtivitis (radang selaput mata) atau pilek ringan. Karena disebabkan oleh virus, tidak ada pengobatan yang dapat diberikan kecuali memperkuat kondisi unggas. Vaksinasi diberikan per oral (lewat mulut) kepada unggas yang sehat, biasanya dicampurkan pada air minum.

Penyakit Gumboro (infectious Bursal Disease)

Foto: juraganternak.com

Penyakit Gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ayam broiler yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejalanya diawali hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan di sekitar dubur, diare, dan tubuh bergetar-getar.

Infectious Bursal Disease (IBD), Avian nephrosis atau Avian Infectious Bursitis. Merupakan penyakit menular akut pada ayam berumur muda yang ditandai dengan peradangan berat bursa fabrisius dan bersifat immunosupresif yaitu lumpuhnya system pertahanan tubuh ayam yang mengakibatkan turunnya respon ayam terhadap vaksinasi dan ayam-ayam menjadi lebih peka terhadap pathogen lainnya.

Penyakit disebabkan oleh Birnavirus dari family Birnaviridae, termasuk satu grup dengan Infectious Pancreatic Necrosis Virus (IPNV) pada ikan, Drosophilla X Virus (DXV) pada serangga dan Tellinavirus pada kerang-kerangan.

Virus ini dikelompokkan ke dalam 2 serotipe berdasarkan uji netralisasi virus yaitu serotipe I dengan beberapa subtipe antigenik yang patogen pada ayam, serotipe II menginfeksi kalkun tanpa disertai gejala klinis.

Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)

Foto: pandaya.co.id

Penyakit Ngorok merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum. Gejala-gejalanya antara lain ayam sering bersin, ingus keluar lewat hidung, dan ngorok saat bernapas.

Penyebab penyakit ngorok adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum dan Mycoplasma synoviae. Penyakit ngorok atau CRD pada ayam ini merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernafasan dimana sifatnya kronis. Disebut kronis karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama (menahun) dan ayamnya tidak sembuh-sembuh. Penyebab utamanya adalah keracunan Mycoplasma galisepticum, salah satu gejala khas CRD adalah ayam tersebut ngorok, sehingga peternak menyebutnya penyakit ngorok.

Sebagai penyakit tunggal, CRD jarang sampai menimbulkan kematian namun menimbulkan angka kesakitan yang tinggi. CRD kompleks termasuk ke dalam 10 besar penyakit yang sering menyerang ayam pedaging maupun petelur.

Akibat dari penyakit CRD adalah rendahnya laju pertumbuhan, tingginya angka kematian dan tingginya konversi ransum. Kerugian lain akibat CRD komplek adalah keseragaman bobot badan yang tidak tercapai dan banyaknya ayam yang harus diafkir, sehingga para peternak akan rugi.

Penyakit Berak kapur (Pullorum)

Foto: dictio.id

Berak kapur disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Kematian dapat terjadi pada hari keempat setelah infeksi.

Salmonellosis Pullorum atau yang lebih dikenal sebagai penyakit berak kapur pada ayam kampung memang sering terjadi pada ayam khususnya pada DOC umur 0-2 minggu. Penyakit pullorum ini hanya terjadi pada unggas saja khususnya ayam. Anak ayam yang terinfeksi menyebarkan penyakit lateral di pembenihan. Pada kenyataanya ayam yang telah terjangkit penyakit berak kapur akan mati setelah menetas. Penyakit dengan bakteri.

Pada kenyataanya ayam yang telah terjangkit penyakit berak kapur akan mati setelah menetas. Penyakit dengan bakteri ini sering terjadi pada peternakan ayam yang menggunakan sistem pemeliharaan intensif. Akibatnya kotoran yang dikeluarkan tidak jauh dari tempat hidup ayam tersebut. Saat pergantian seperti ini sering kita merasakan pergantian musim. Baik suhu di siang hari maupun malam hari. Kadang siang terasa panas dan malam sangat dingin. Dengan keadaan suhu seperti ini dapat menyebabkan penyakit yang beragam. Sebagai pertanda akan datangnya penyakit biasanya siang panas dan malam akan terasa dingin. Ini jelas berdampak tidak baik bagi ayam.

Penyakit PHS (Pulmonary Hypertension Syndrome)

Foto: temanc.raksasa.com

PHS yang kemudian diikuti dengan ascites merupakan salah satu penyebab kerugian dalam industri peternakan. PHS biasanya disebut ascites. Penyebab utamanya adalah meningkatnya tekanan hidrostatis intravaskuler dan gagalnya ventricular kanan. Sebagai akibat dari meningkatnya tekanan, transudate pun keluar dari pembuluh darah dan terakumulasi di dalam rongga abdominal.

Ascites merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan akumulasi cairan tubuh di dalam rongga mulut. Kasus ini dapat terjadi pada ayam umur sehari (DOC) hingga dewasa dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda dan ayam jantan lebih peka disbanding ayam betina. Ascites sering terjadi pada ayam pedaging (Broiler), selain itu ascites juga dapat di jumpai pada itik pedaging.

Ascites yang kemudian berujung pada PHS (Pulmonary Hypertension Syndrome) merupakan salah satu penyebab kerugian dalam industry perunggasan terutama pada ayam broiler dan layer.

Ascites menyebabkan kerugian akibat kematian hingga 2% dan 0,35% yang mencapai $ US 12 di Kanada dan $ US 100 juta di Amerika. Untuk Indonesia, kejadian ascite kurang mendapat perhatian bagi kalangan pakar perunggasan, akademisi maupun peternak.

Hal ini disebabkan ascites merupakan penyakit individual yang bersifat tidak menular atau non infeksius. Padahal, secara statistic angka kejadian ascites di negeri ini cukup tinggi terutama pada ayam broiler dan layer dengan mutu genetic yang rendah, pakan dengan nilai gizi yang kurang lengkap serta lingkungan pemeliharaan yang kurang sesuai dengan kualitas bibit ayam broiler modern saat ini.

Ascites merupakan sindrom penting pada ayam pedaging hasil seleksi, yang erat hubungannya dengan pertumbuhan yang cepat.

Penyakit Bubble foot

Foto: kesehatanunggas13.blogspot.com

Bubble foot adalah penyakit ayam yang sering terjadi pada organ kaki ini dikenal dengan istilah bumble foot disease.

Penyakit ayam yang sering terjadi pada organ tubuh ayam di bagian kaki, penyakit ini sangat di kenal dengan istila bumble foot disease, penyakit kangker pada bagian kaki ayam, penyakit ini adalah penyakit yang di sebabkan oleh infeksi pada bagian kaki (pada awalnya) bisa di katakan atau di kategorikan kangker ganas juga.

Biasanya penyakit ini sangat sering di temukan di peternakan ayam breeder ataupun layer, karena penyakit bumble foot sering terjadi pada ayam yang sudah menginjak usia 25 minggu sampai 40 ( tahap keganansan) karena pada usia ini lah sering terdapat ayam yang sudah terinfeksi bakteri, dan pada usia ayam menginjak 41 minggu sampai 65 minggu bisa di katakan 25 percent dari jumlah ayam sakit pada usia 25 mggu sampai 40 minggu.

Pada dasarnya, jika ayam sudah menghidap penyakit jenis ini, dan yakin bumble foot sudah emnyerang kaki ayam 90 % ayam tidak bisa di obati, paling bisa di buang.

(Berbagai Sumber)

(Visited 91 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *