fbpx
Suara Peternakan

Pemeliharaan Ayam Kampung Hingga Siap Jual

SUARAPETERNAKAN.COM, – Cara agar sukses beternak ayam kampung lebih mudah dibanding ternak ayam ras pedaging dan ayam ras petelur, sebab ayam kampung memiliki system kekebalan tubuh yang lebih tinggi. Sebutan ayam kampung berasal karena sering dipelihara dan sering ditemukan disekitar perumahan atau perkampungan sehingga disebut ayam kampung.

Ayam kampung sangat digemari oleh masyarakat, dikonsumsi daging dan dagingnya. Telur dan dagingnya sangat menggugah selera. Ayam ini dibudidayakan secara tradisional untuk dikonsumsi sendiri. Ayam kamoung diternakkan dan dibudidayakan secara moderen sebagai sumber penghasilan.

Prospek bisnis ayam kampung di Indonesia cukup menjanjikan. Namun, hingga saat ini belum banyak masyarakat yang melakukan aktivitas ternak ayam kampung secara massal dan besar-besaran dalam skala komersil.

Jenis ayam kapmpung yang cukup familiar dimasyarakat. jenis varietas ayam kampung yang sudah dikenal di Indonesia antara lain, ayam kedu, ayam nunukan, ayam pelung, ayam sumatera, ayam belenggek, yam gaok, ayam samba, ayam arab, ayam bangkok, ayam pilipina.

Sistem Pemeliharaan

Foto: Hardianti

Ada tiga macam sistem yang digunakan dalam beternak ayam yaitu sitem ektensif atau tradisional, semi intensif dan intensif. masing-masing mengindikasikan skala kegiatan peternakan itu sendiri, skala kecil, menengah dan skala besar.

Sistem intensif cocok untuk ternak ayam kampung dan ternak ayam petelur dan ternak ayam lainnya. Ayam kampung merupakan ayam asli lokal sudah terbiasa hidup bebas dan tidak bisa dipelihara dalam kandang yang ruang geraknya terbatas.

1. Sistem Ektensif Tradisonal
Beternak ayam kampung dengan sistem tradisional, banyak dilakukan dalam ternak ayam oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Sistem ektensif tradisional disebut juga dengan sistem umbaran. Umbaran merupakan ternak kampung dibiarkan bebas dan tanpa kandang. Sistem ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim dipedasaan. Mereka tidak begitu memperhatikan aspek teknis dan perhitungannya secara ekonomis.

Pada umumnya dilakukan dalam skala kecil. Memanfaatkan hasil ternaknya untuk keperluan sendiri. Dalam sistem tradisional, peternak tidak perlu mengeluarkan biaya untuk keperluan pakan. Pakan yang diberikan berupa sisa-sisa makanan dan ayam akan mencari sendiri tambahan makanannya di alam.

Modal dalam beternak ayam kampung sistem tradisional relatif rendah, namun produktivitasnya juga rendah. Pada malam hari, ayam-ayam biasanya dibiarkan bertengger di pohon-pohon yang terdapat disekitar rumah. Sehingga tidak begitu memerlukan kandang. Pada siang hari ayam dibiarkan lepas dan mencari makan sendiri disekitar pekarangan.

Ternak sitem tradisional memeiliki banyak kelemahan atara lain:

  • Kematian anak ayam relatif tinggi, sebab anak ayam tidak terawat dengan baik dan dibiarkan lepas bersama induknya.
  • Ayam sangat rawan terhadap gangguan binatang liar seperti ular, musang, biawak, burung elang dan predator-predator lainnya.
  • produktivitas sangat rendah, baik daging dan telurnya.

2. Sistem Semi Intensif

Pada sistem ini ternak ayam kampung dilakukan dalam skala menengah sampai skala besar. Ayam-ayam dipelihara dan dilepas dihamparan lahan atau pekarangan. Ruang gerak yang terbatas karena disekelilingnya dibuat pagar agar ternak tidak keluar.

Dalam pagar dibuat kandang sebagai tempat berlindung ayam, pada malam hari atau berteduh jika turun hujan. Lahan dibiarkan alami dan beralaskan makanan tambahan dengan mudah.

Pada sistem ini dimulai dengan pemisahan anak ayam yang baru menetas dari induknya. Anak-anak ayam dipelihara dalam kandang khusus dan diberi pakan sesuai kebutuhannya. persentase kematian anak ayam rendah, sebab anak ayam dipelihara dengan baik. Anak ayam ini akan lebih aman dari gangguan liar dan ayam dewasa.

Pemberian pakan dilakukan dalam sehari disetiap pagi dan sebelum ayam dilepas dari kandang. Ayam akan mencari pakan didalam kandang pekarangan.

Agar ketersediaan pakan alami tetap terjaga, sesekali tanah didalam kandang dicangkul agar tidak padat dan cacing-cacing tanah dapat tumbuh dengan baik. Beternak ayam kampung dengan sistem semi intensif membutuhkan lahan yang cukup. Jumlah ternak ayam yang dipelihara disesuaikan dengan ketersediaan lahan.

3. Sistem Intensif
Sistem intensif ayam ternak dikandang sepanjang hari tanpa dilepas sama sekali. Ayam ternak tidak bisa mencari pakan sendiri dan ruang geraknya sangat terbatas. Ayam kampung yang dipelihara dalam kandang dan dikurung selama 24 jam penuh akan menyebabkan pertumbuhannya lambat. Dan secara otomatis biaya pembelian pakan lebih besar karena ayam tidak bisa mencari pakan sendiri di alam.

Persiapan Kandang

Persiapan lokasi atau kandang untuk ternak ayam kampung merupakan faktor utama yang perlu di perhatikan, Lokasi kandang minimal berjarak 10 meter dari tempat tinggal.

Kandang harus selalu kering, tidak boleh lembab, Lokasi dipagar keliling agar ayam tidak keluar, usahakan sinar matahari bisa masuk kekandang secara langsung, serta sirkulasi udara lancar dan kandang tempat istirahat harus terhalang dinding atau tembok untuk menghindari angin kencang.

Kandang inilah yang nantinya akan di gunakan sebagai lokasi budidaya. Sebaikanya siapkan lokasi kandang yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumah. Agar tentunya lebih mudah dalam pemgawasan. hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Buat kandang tertutup yang mengelilingi lokasi agar ayam tidak berkeliaran dan menganggu tetangga.
  • Anda bisa membuat kandang menggunakan bambu yang dianyam atau dipaku.
  • Yang terpenting dinding kandang harus rapat agar tidak bisa dimasuki hewan aliar seperti anjing atau hewan buas lainnya.
  • Tinggi tingging kandang minimal 3 meter, sebab jika dibawah 3 meter dikhawatirkan ayam masih dapat terbang untuk melewatinya.
  • Sekat kandang menjadi dua bagian, dimana satu bagian untuk ayam dewasa dan satu yang untuk ayam yang kelas baru mulai di tetaskan.
  • Setelah kandang siap, maka anda bisa langsung memulai tahapan budidaya.
  • Seminggu sebelum di tempati sebaiknnya kandang dibersihkan dan disemprot menggunakan pestisida agar tentunya parasit-parasit yang ada mati dan tak menganggu prosea budidaya.

Pemilihan Bibit

Foto: Hardianti

Beberapa cara untuk memilih bibit dalam budidaya ayam kampung, yaitu dengan menetaskan bibit sendiri, caranya memelihara indukan sampai bertelur atau membeli telurnya, Kemudian ditetaskan dan anaknya diternak untuk dibesarkan. Memilihan bibit yang bagus tujuannya agar mendapatkan hasil yang berkualitas.

Memeprcepat proses budidaya maka sebaiknya penetasan telur dilakukan secara manual atau buatan seperti pada cara budidaya lobster di kolam terpal . Jika ditetaska melalui cara buatan waktu yang dibutuhkan lebih singkat yakni hanya 14-20 hari. Sedangkan jika ditetaskan secara alami membutuhkan waktu yang lebih lama yakni sekitar 25-35 hari saja. Untuk itu, menetaskan secara manual akan lebih menguntungkan dala budidaya.

Dalam Pemeliharaan anak ayam yang perlu dilakukan ialah tentunya memberi pakan. Pakan yang digunakan juga merupakan pakan khusus dan minum yakni jagung yang digiling dengan halus. Pakan ini diberikan hingga anakan berusia 2 bulan. Baru setelah lewat dua bulan, anakan dapat dipindahkan ke kandang dewasa.

Melakukan perawatan dan pemeliharaan berupa pemberian pakan dan minum. Minimal air minum harus diganti dengan yang baru setiap makasimal dua hari sekali. Bersihkan kandang secara ruti dari kotoran dan sisa makanan yang menumpuk serta yang paling penting tentunya pemberian pakan harus dilakukan dengan rutin setiap 3 kali dalam sehari.

Pemberian Pakan

Foto: Hardianti

Pakan juga merupakan faktor utama dalam usaha budidaya, Pakan mempunyai andil besar sukses tidaknya ternak ayam kampung, Pakan yang diberikan haruslah mempunyai kandungan nutrisi yang lengkap.

Jenis pakan ayam kampung yang biasa diberikan bisa berupa apa saja seperti; voer, konsentrat, sisa-sisa makanan, Serta sayur-sayuran hijau.

Selain makanan racikan pabrik atau racikan sendiri, Ayam juga bisa mendapat makanan tambahan dari alam, Seperti cacing serta rumput liar, Jadi usahakan sesekali tanah dicangkul agar cacing cepat berkembang biak, dan rumput bisa tumbuh.

Masa Panen

Foto: Hardianti

Keuntungan ternak ayam kampung secara semi intensif adalah masa panen yang lebih cepat di banding dengan cara tradisional.

Jika ternak ayam kampung secara tradisional ayam baru bisa dipanen untuk dimanfaatkan dagingnya sekitar umur 5-6 bulan, sedangkan jika diternak secara semi intensif, ayam sudah dapat dipanen pada usia 3–4 bulan saja.

Atau jika ingin memanfaatkan telurnya, budidaya system semi intensif juga lebih cepat berproduksi, yaitu umur 6 bulan ayam sudah mulai bertelur, sedangkan jika menerapkan system tradisional ayam baru bisa bertelur sekitar umur 8-12 bulan.

Demikianlah panduan budidaya ayam kampung yang bisa saya sampaikan, Semoga dapat membantu anda yang berminat usaha ternak ayam kampung hingga sukses.

Ayam Siap Jual

Foto: Hardianti

Setelah berumur 1-3 bulan maka anakan ayam kampung sudah bisa di jual ke pasaran.Namun, tentunya tidak hanya berpatokan dengan umur saja, sebab pastinya berat atau bobot tubuh ayam juga akan menentukan nilai jual.

Biasanya bobot ayam yang sudah idela dijual dan di konsumsi antara 1-2 kg. Ini tergantung dengan permintaan di pasaran. Sebab tentu kita harus mengikuti bobot standar yang biasa ada di pasaran. Selain daging, pastinya komoditas lain dari budidaya ayam kampung yang dapat dijual adalah telur ayam.

Minat masyarakat akan telur ayam kampung juga cukup besar. Meskipun harga telur ayam kampung sendiri relatif cukup mahal jika di bandingkan dengan telor ayam negeri. Sehingga saat anda telah memiliki banyak sekali indukan maka produksi telur anda juga akan semakin besar.

Kotoran ayampun bisa anda manfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman sayuran. Terutama dalam sistem pertanian organik penggunaan pupuk tai ayam ini wajib digunakak sebagai pengganti pupuk kimia.

(Berbagai Sumber)

(Visited 89 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *