fbpx
Suara Peternakan

Cara Pengolahan Tepung Bulu Ayam (Unggas) untuk Pakan Ternak

SUARAPETERNAKAN.COM – Dalam mengurangi dampak pencemaran limbah bulu ayam (unggas) pada lingkungan, maka dengan cara pengolahan bulu ayam menjadi hidrolisat bulu ayam sebagai pakan ternak. Limbah bulu ayam pada prinsipnya perlu dilemahkan atau diputuskan terlebih dahulu ikatan keratinnya dengan prinsip hidrolisis.

Ada beberapa metode yang dilakukan dalam pemrosesan bulu ayam yaitu secara fisik, kimiawi dengan asam. Kimawi dengan basa, serta mikrobiologis. Tahapan awal yang dilakukan dengan membersihkan kotoran yang menempel dengan air bersih, kemudian dikeringkan.  Adapun alat dan bahan yang dibutuhkan seperti autoklaf, wadah tertutup, cawan petri, penggiling bulu ayam, air, HCl, NaOH, media PDA, isolat Bacillus licheniformis, dan sampel tanah kandang ayam.

Cara kerja pengolahan secara fisik; limbah bulu ayam diproses dengan menggunakan teknik fisik. Menggunakan tekanan dan suhu yang tinggi (1050C) dengan tekanan 3atm dan kadar air 40% selama 8 jam. Sampel yang sudah dibersihkan kemudian di autoklaft, kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling (Adiati, dkk 2004).

Cara kerja dengan pengolahan secara kimiawi; Proses kimiawi dilakukan dengan penambahan HCl 12%, dengan ratio 2:1 pada bulu ayam yang sudah bersih, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama empat hari. Sampel yang telah direndam oleh HCl 12% kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling menjadi tepung.

Cara kerja dengan pengolahan secara enzimatis; Bulu ayam yang diproses dengan teknik enzimatis dilakukan dengan menambahkan enzim proteolitik 0,4% dan disimpan selama dua jam pada suhu 52oC. Bulu ayam kemudian dipanaskan pada suhu 87oC hingga kering dan digiling hingga menjadi tepung.

Cara kerja dengan pengolahan secara kimia dengan basa; Pengolahan secara kimia menggunakan basa, dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 6%, disertai pemanasan dan tekanan menggunakan autoklaf. Bulu ayam yang sudah siap kemudian dikeringkan dan digiling (Puastuti 2007).

Cara kerja dengan  pengolahan secara mikrobiologi pemberian;  Proses hidrolisis bulu ayam menggunakan agen mikrobiologi, dilakukan dengan menambahkan Bacillus licheniformis dan diinkubasi selama 72 jam (Puastuti 2007).

Teknik lain yang dapat dilakukan adalah dengan teknik fermentasi menggunakan jamur hasil isolasi dari tanah kandang ayam. Jamur didapat dengan cara melarutkan 200 gram tanah di dalam 200 ml aquades, lalu dilakukan pengenceran hingga 10-7 dan ditumbuhkan pada media PDA. Jamur yang sudah berkembang kemudian diisolasi hingga dihasilkan kultur murni. Kadar air yang terkandung di dalam media fermentasi berupa bulu ayam, minimal sebanyak 30%. Kadar air yang terkandung di dalam tepung bulu ayam kering adalah 10%, karena itu dilakukan penambahan air sebanyak 20% dari berat kering tepung bulu ayam. Proses fermentasi dilakukan mencampurkan inokulum jamur yang telah diencerkan ke dalam 20 gram tepung bulu ayam, dan ditempatkan pada wadah kedap udara (Ketaren 2008).

Cara kerja dengan  pemberian HBA pada ternak;  HBA yang telah siap kemudian ditambahkan ke dalam pakan hijauan ternak dengan perbandingan 1:1. Setelah beberapa minggu pemberian HBA pada pakan dilakukan analisa terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan kadar protein dengan mengambil sampel cairan rumen.

Penggunakan tepung bulu ayam sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) hingga 40% dari total protein ransum memberikan respon biologis yang baik. Dapat pula meningkatkan konsumsi bahan kering, hal tersebut mengindikasikan bahwa ransum dengan tepung bulu unggas mempunyai palatabilitas (kemampuan untuk merasa, mencicipi, mengecap makanan dsb) yang tinggi.

Protein yang di konsumsi, sebagian besar ternak ruminansia merupakan protein yang mempunyai tingkat kecernaan dalam rumen yang rendah (RUP), namum tingkat protein by pass yang tinggi.

Protein yang dimasukkan ke dalam rumen hanya sebagian kecil saja yang mengalami perombakan menjadi NH3, tetapi cukup mendukung pertumbuhan mikroba dalam rumen. Sebagian besar protein akan masuk ke saluran pencernaan pascarumen dan mampu memasok asam amino yang cukup untuk kebutuhan ternak.

Pemberian tepung bulu sebagai sumber protein tidak tercerna dalam rumen mampu meningkatkan suplai total asam amino dalam usus halus sekaligus dapat memperbaiki profil asam amino.

Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumen undegradable protein / RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pasca rumen. Nilai RUP tersebut berkisar 53-88 %, sementara nilai kecernaan tepung bulu ayam dalam rumen hanya 12-46 %.

Menurut pengalaman  Thomas dan Beeson penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum harus/sebaiknya dikombinasikan dengan urea (1977) . Selanjutnya tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Semakin baik pengolahannya, akan semakin baik pula hasilnya.

Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992).

Limbah bulu ayam basah tanpa diproses telah diperjual belikan dengan harga rata-rata Rp.200/kg, sedangkan bila sudah diproses menjadi tepung bulu kering harganya mencapai Rp. 2.500/kg. Mengacu pada nilai tersebut banyaknya ayam yang dipotong per hari akan berpeluang memberikan tambahan penghasilan sampingan dari penjualan bulu ayam yang cukup menjanjikan.

(berbagai sumber)

(Visited 588 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *