fbpx
Suara Peternakan

Tentang Unggas dan Tahapan Sejarah Perunggasan di Indonesia

SUARAPETERNAKAN.COM – Unggas adalah jenis hewan chordata (bertulang belakang). Telah mengalami domestikasi untuk diternakkan. Termasuk dalam kelas aves (bersayap). Unggas digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti daging dan telurnya.  Termasuk dalam hewan monogastrik yaitu hanya memiliki satu lambung.

Peternakan unggas seperti ayam, kalkun, bebek, dan angsa menghasilkan daging, telur, bulu dan kotoran. Unggas masuk dalam ord ansariformes (entok, angsa, itik, udan, belibis). Jenis unggas ordo rosares/galliformes  (ayam, merak, maleo, ayam bekisar, kalkun, puyuh).

Saluran pencernaan unggas  yaitu terdiri dari mulut (paruh), Esofagus, Tembolok (corp), Lambung kelenjar (proventiculus), Lambung keras (ventriculus/gizard), usus halus (small intestine), Sekum (caecum), usus besar (largeintestine), Kloaka (cloaca) dan Anus (vent).

Ayam petelur adalah ayam yang dipelihara untuk menghasilkan telur, sedangkan ayam yang dibesarkan untuk menhasilkan daging disebut ayam broiler atau ayam bukan ras (buras).

Pada unggas, organ yang diperlukan dalam membantu proses pencernaan yaitu pankreas dan hati. Daging unggas berwarna putih, mengandung 1-3 miligram mioglobin sekitar 8 miligram per gram daging. Mioglobin adalah protein mengikat oksigen dan menyimpan oksigen di dalam sel.

Unggas mudah dirawat dan termasuk hewan yang produktif. Bentuk tubuh yang dimiliki unggas kebanyakan menyerupai ayam dan bebek. Hewan ini sering dijadikan sebagai hewan ternak atau hewan peliharaan.

Kekurangan dalam memelihara unggas adalah daya tahan tubuh yang lemah dan mudah terkena virus dan penyakit.

Ciri-ciri unggas yaitu memiliki bulu yang menutupi tubuhnya, memilki jantung empat ruang (bilik kanan, bilik kiri, serambi kanan, dan serambi kiri), bernafas dengan menggunakan paru-paru,  selain itu ada juga memiliki alat bantu pernafasan yaitu pundi udara membantu dalam proses terbang.

Unggas berkembang biak dengan cara ovipar atau bertelur, cara fertilisasi dengan fertilisasi internal, termasuk dalam golongan hewan berdarah panas atau homoioterm. Unggas memiliki organ gerak berupa sepasang kaki dan sepasang sayap. Meskipun ada beberapa hewan unggas yang tidak bisa terbang, sebab tidak memiliki kantong udara pada sayapnya.

Tahun 1953-1960 merupakan tahapan perintisan perunggasan di Indonesia.Pecinta ayam impor tergabung dalam wadah Gabungan Peternak Unggas Indonesia (GAPUSI).  Mengimpor ayam jenis White Leghorn (WL), Whole Islan Red, New Hampire, dan Australop. Ayam jenis ini diperuntukkan untuk hiburan dan tidak untuk tujuan komersil. GAPUSI juga mengadakan kegiatan penyilangan terhadap breed murni ayam impor dengan ayam lokal.

Tahun 1961-1970 merupakan tahapan pengembangan. Tahun 1967 diadakan pameran ternak unggas nasional dan kegiatan bimbingan masyarakatkan untuk memasyarakatkan unggas ke peternak. Bertujuan dalam peningkatan konsumsi protein sekitar 5 gram/kapita/hari. Pada saat itu komsumsi protein hewani masih 3,5 gram/kapita/hari.

Tahun 1971-1980 merupakan tahapan pertumbuhan. Tepatnya tanggal 2 maret 1971 diadakan pameran ternak ayam di Istana Presiden. Tahun 1978 diadakan kembali sosialisasi atau bimbingan masyarakat kepada peternak mengenai peternakan ayam broiler.

Pada tahun 1980 industri perunggasan dari hulu ke hilir produksinya mengalami peningkatan yang cukup pesat sehingga dapat menggantikan protein hewani yang berasal dari kerbau/sapi. Namun masa keemasan harus hilang akibat krisis moneter yang menimpa Indonesia tahun 1998 yang memyebabkan para peternak mengalami kebangkrutan.

Sumber: Wikipedia, karyapemuda.com, situspeternakan.com

(Visited 597 times, 5 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *