fbpx
Suara Peternakan

Produksi Jagung dan Industri Perunggasan Tahun 2019

SUARAPETERNAKAN.COM – Jagung digunakan untuk mengimbangi industi perunggasan yang meningkat signifikan. Melihat industri perunggasan khususnya ayam terus berkembang dan menunjukkan peningkatan produksi.

Produksi daging ayam ras, secara nasional meningkat dari 1,5 juta ton pada tahun 2014 menjadi 1,8 juta ton di tahun 2017. Telur juga meningkat dari 1,2 juta ton menjadi 1,5 juta ton pada periode waktu yang sama

Bukan hanya di Indonesia, negara besar juga seperti Amerika memiliki produksi jagung yang tinggi untuk memenuhi pakan ternak. Dengan banyaknya masalah yang dihadapi peternak akibat distribusi yang tersendat. Stok jagung Bulog yang digelontorkan pemerintah lebih banyak terserap ke perusahaan besar untuk digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak.

Pada beberapa kesempatan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa adanya kebijakan impor jagung terus dilakukan untuk menghadapi masalah tersebut.

Amran berharap polemik impor jagung tak perlu diperpanjang. Ia menyebut masalahnya bukan terletak pada produktivitas pertanian dalam negeri. Ia menjamin bahwa impor tidak menandakan bahwa stok jagung dalam negeri defisit.

Pemerintah telah menugaskan Perum Bulog mengimpor jagung hingga 100.000 ton. Menyikapi kebijakan ini, peternak unggas meminta jagung impor masuk sebelum Februari 2019 karena masuk panen raya.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Atung, mengatakan diprediksi bahan baku jagung untuk pakan ternak menipis saat bulan Januari 2019.

Tanpa Jagung Output Ternak, Baik Telur Maupun Daging Ayam, Tidak Sebagus Sebelumnya

Tahun 2018,  Kementerian Pertanian mengklaim produksi jagung mencapai 30 juta ton. Industri perunggasan hanya perlu 8-9 juta ton per tahun. Karena impor ditutup dan tidak juga memperoleh jagung domestik, peternak dan perusahaan pakan mengganti jagung dengan gandum.

Substitusi jagung dengan gandum untuk pakan ternak bukanlah solusi yang baik. Performa ternak tidak sebaik jika pakan tersusun dari komponen jagung.

Sejak pelarangan impor jagung, produksi jangung turun drastis: dari 3,5 juta ton pada 2015 tinggal 1,3 juta ton pada 2016. Pada saat yang sama, impor gandum untuk pakan melonjak drastis: dari 0,02 juta ton pada 2015 menjadi 2,5 juta ton pada 2016. Makna penurunan impor jagung akhirnya menjadi amat artifisial.

Jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan. Dari komposisi pakan unggas, 50-55% dari jagung. Pakan merupakan komponen utama dalam industri perunggasan, mengambil porsi 70% dari ongkos produksi.

Menurut Wiwik Suhartiningsih, Peminat masalah sosial-ekonomi pertanian, alumnus Pasca Sarjana IPB ini mengatakan, Industri perunggasan kini merupakan salah satu sektor penting. Sektor ini jadi gantungan hidup rakyat, menyerap tenaga kerja lebih 4 juta orang dengan nilai ekonomi lebih Rp 100 triliun. Telur dan daging ayam kini menjadi sumber protein lengkap yang terjangkau kantong.

Dalam garis kemiskinan makanan, telur dan daging ayam menempati posisi 3 dan 4 terbesar komoditas penguras belanja rumah tangga. Jika harga telur dan daging ayam naik, inflasi bakal meroket, daya beli turun, dan kemiskinan membengkak.

Masalah Yang di Hadapi Perunggasan Tahun 2019

Tantangan budi daya unggas pada tahun 2018 juga bertambah sejak pemerintah menjalankan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Melalui peraturan itu, terhitung sejak awal 2018, para peternak tidak lagi diperkenankan menggunakan antibiotic growth promoter (AGP) dalam kegiatan budi daya unggas.

Regulasi tersebut berpengaruh pada produktivitas unggas, biaya produksi, dan akhirnya berpengaruh pula pada pergerakan harga di pasaran. Pelarangan penggunaan AGP itu memiliki tujuan menciptakan produk unggas yang bebas residu antibiotik, sehingga aman bagi kesehatan.

Tantangan lain adalah sulitnya peternak mendapatkan jagung untuk bahan pakan dan harga jagung yang melambung tinggi dan beragam jenis penyakit unggas yang bermunculan. Sehingga upaya peningkatan konsumsi daging dan telur yang belum melonjak secara drastis.

Banyaknya persoalan yang dihadapi menjadi pembelajaran dan keberlanjutan bisnis perunggasan di tahun 2019. Perlu adanya evaluasi dalam meningkatkan peluang di tahun 2019 ini.

Dilansir dari majalah Poultry Indonesia edisi januari 2019, meski banyak masalah yang dihadapi, industri perunggasan masih tetap menjadi primadona dalam investasi bidang peternakan. Menurut data yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr. drh. I Ketut Diarmita, MP., peternakan unggas merupakan sektor yang paling diminati oleh para investor baik dari dalam maupun luar negeri.

Investasi di sektor ini sangat mendominasi jika dibandingkan dengan subsektor peternakan yang lain. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sektor perunggasan memiliki porsi sebesar 78,32% di tahun 2017, dan sebesar 85,3% pada semester I 2018. Sedangkan untuk investasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada sektor ini sebesar 94,75% di tahun 2017, dan sebesar 46,9% pada semester I 2018. Artinya, potensi bisnis perunggasan di Indonesia ini masih sangat menjanjikan dan berkembang dari waktu ke waktu.

Jagung sebagai Pakan Utama Ternak Diramal Naik 16 Persen di 2019

dilansir dari cnnindonesia.com, Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memperkirakan kebutuhan komoditas jangung untuk pakan ternak akan mencapai 7 juta ton pada 2019, atau meningkat 16,6 persen dari asumsi kebutuhan tahun ini 6 sekitar juta ton.

Dalam perhitungan bulanan, kebutuhan jagung untuk pakan ternak diperkirakan meningkat menjadi 600 ribu ton, dari tahun ini yang hanya sekitar 450-500 ribu ton per bulan.

Permendag No 96/2018 tertanggal 21 September 2018 itu tertulis saat harga jatuh di bawah acuan pembelian di produsen atau ada di atas harga acuan penjualan konsumen, pemerintah lewat menteri bisa menugaskan Bulog/BUMN lain untuk melakukan pembelian atau penjualan. Penugasan diputuskan di Rakor Menko Perekonomian. Namun, penugasan itu belum ada sampai saat ini.

Peternak ayam ras, seperti ayam layer, tertekan oleh harga pakan yang tinggi imbas dari harga jagung yang naik. Kerumitan semacam ini terjadi sejak pemerintah menyetop impor jagung mulai 2016. Alasannya, produksi jagung domestik cukup, bahkan surplus.

Sektor perunggasan ini menyerap tenaga kerja lebih dari 4 juta orang dengan nilai ekonomi lebih dari Rp100 triliun. Sektor ini juga menjadi gantungan hidup rakyat kecil. Telur dan daging ayam selama ini menjadi sumber protein lengkap yang terjangkau kantong. Jika tujuan pemerintah adalah membuka akses warga pada sumber-sumber protein murah, telur dan daging ayam adalah pilihan paling masuk akal.

Telur dan daging ayam menempati posisi 3 dan 4 terbesar komoditas penguras belanja rumah tangga. Telur dan ayam bahkan bisa dijangkau oleh masyarakat menengah kebawah. Harga telur dan daging ayam yang menguntungkan produsen dan terjangkau konsumen, bukan hanya peternak yang diuntungkan, warga secara keseluruhan juga ekonomi akan memetik manfaatnya.

Diolah dari berbagai sumber

(Visited 44 times, 1 visits today)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *